Fenomena yang terjadi sekitar pukul 18.46 WIB itu punya nama yang cukup puitis: space jellyfish atau ubur-ubur antariksa. Ricko memaparkan, efek visualnya yang seperti ubur-ubur dengan ekor gas lebar itu sering disebabkan oleh roket-roket tertentu, misalnya Long March CZ-3B asal Tiongkok. Di ketinggian, badan roket itu masih menangkap cahaya matahari, sementara permukaan bumi di bawahnya sudah gelap. Jadilah pemandangan spektakuler yang bikin heboh.
Di sisi lain, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang. Ricko menegaskan, "Masyarakat tidak perlu khawatir ya terhadap fenomena itu."
Rupanya, kejadian di Malang pada 11 April 2026 itu bukan yang pertama. Fenomena serupa sudah lebih dulu tercatat di Lampung (4 April) dan Natuna (9 April). Tampaknya, ini adalah pemandangan yang relatif umum di wilayah khatulistiwa seperti Indonesia, yang kebetulan dilintasi banyak jalur orbit satelit dan benda antariksa lainnya.
Singkatnya, penjelasan BMKG ini ingin menegaskan satu hal: yang terjadi di langit Malang malam itu hanyalah peristiwa astronomi biasa. Menakjubkan untuk dilihat, tapi sama sekali tidak berbahaya. Jadi, tak perlu lagi ada rasa was-was.
Artikel Terkait
Darma Henwa Pertimbangkan Dividen Pertama Usai Laba Bersih Melonjak 7.697%
Keluarga Daeng Mamala Hibahkan 20 Hektare untuk Pesantren dan RS Al-Khairaat di Morut
Aturan Ganjil-Genap Tetap Berlaku di Jakarta Usai Libur Natal dan Tahun Baru
BMKG: Hujan Ringan Guyur Banyak Wilayah, Waspada Potensi Hujan Petir di Bandung dan Lampung