Nah, respons orang tua ternyata punya pengaruh besar. Bisa memperkuat atau justru meredakan perilaku tersebut. Coba deh diingat-ingat. Kalau kita panik, ikut marah, atau akhirnya menyerah, anak akan belajar sesuatu: bahwa tantrum adalah ‘senjata’ yang ampuh. Sebaliknya, kalau kita bisa tetap tenang dan konsisten, anak pelan-pelan akan paham mana batas yang tidak boleh dilewati.
Konsistensi itu memang jadi kunci utama. Aturan nggak cukup cuma diomongin sekali. Harus dijaga dengan pola yang sama setiap hari. Misalnya, menetapkan waktu bermain yang jelas, menentukan lokasi penggunaan gadget yang terbuka (bukan di kamar terkunci), dan membiasakan mengakhiri aktivitas digital di jam tertentu.
Tapi, ngomong-ngomong soal aturan, itu saja tidak cukup. Anak tetap butuh alternatif. Bayangkan, gadget diambil, lalu tidak ada aktivitas pengganti. Yang tersisa ya kekosongan. Dan di situlah tantrum mudah sekali muncul. Makanya, orang tua perlu hadir dengan opsi lain. Ajak main board game, keluar rumah untuk aktivitas fisik, atau sekadar ngobrol ringan tentang harinya.
Intinya, ini soal keseimbangan. Di satu sisi, kita perlu tegas menetapkan batas. Di sisi lain, kita juga harus hadir secara emosional untuk mengisi ruang yang ditinggalkan oleh layar itu. Tidak mudah, memang. Tapi perlahan-lahan, dengan kesabaran dan konsistensi, suasana ruang keluarga bisa kembali hangat. Bukan oleh cahaya gadget, tapi oleh kehadiran kita sendiri.
sumber : Antara
Artikel Terkait
Dekan FH UI Buka Suara Soal Percakapan Diduga Melecehkan Perempuan
DPR Kumpulkan Masukan untuk Revisi UU Peternakan dan Kesehatan Hewan
Paus Leo XIV Tanggapi Kritik Trump dengan Sikap Tenang dan Seruan Damai
95 Tewas dalam Tiga Hari Pertama Perayaan Songkran di Thailand