REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA Suasana di ruang keluarga belakangan ini memang berbeda. Kalau dulu riuh oleh canda dan obrolan, sekarang lebih sering sunyi. Yang ada cuma cahaya layar yang menyala dari gawai di tangan anak-anak. Mereka duduk berdekatan, tapi perhatiannya terpaut jauh ke dunia masing-masing. Terhubung dengan game online, tapi justru terputus dari percakapan nyata di sekitarnya.
Bagi banyak orang tua, meminta anak untuk meletakkan gadget bukan perkara mudah. Rasanya seperti membuka medan pertempuran kecil di dalam rumah sendiri. Suara bisa meninggi, tangisan kerap pecah, bahkan tak jarang diakhiri dengan bantingan pintu. Di momen-momen seperti itulah, orang tua sering merasa goyah. Haruskah aturan ditegakkan, atau lebih baik mengalah demi ketenangan yang cuma sesaat?
Padahal, reaksi emosional anak saat gadget-nya diambil sebenarnya wajar-wajar saja. Menurut para ahli, itu adalah bentuk keterikatan yang sudah terbentuk. Sebuah kombinasi antara kebiasaan, kesenangan instan, plus kebutuhan sosial mereka yang kini banyak terpenuhi di ruang digital.
Di sinilah ujian sesungguhnya bagi orang tua. Peran kita bukan cuma sebagai pembuat aturan, tapi lebih sebagai penuntun emosi. Memang, membatasi tanpa memahami bakal memicu konflik. Tapi memahami tanpa memberi batas juga bisa berujung pada ketergantungan yang makin parah.
Psikiater Subspesialis Psikiatri Adiksi, Kristiana Siste Kurniasanti, pernah mengingatkan hal penting. Katanya, orang tua sebaiknya tidak langsung bereaksi saat anak tantrum.
Artikel Terkait
Dekan FH UI Buka Suara Soal Percakapan Diduga Melecehkan Perempuan
DPR Kumpulkan Masukan untuk Revisi UU Peternakan dan Kesehatan Hewan
Paus Leo XIV Tanggapi Kritik Trump dengan Sikap Tenang dan Seruan Damai
95 Tewas dalam Tiga Hari Pertama Perayaan Songkran di Thailand