Ketua PDIP Jatim Soroti Peregukan Basis NU dan Ancaman Budaya Palsu di Era Digital

- Minggu, 12 April 2026 | 13:55 WIB
Ketua PDIP Jatim Soroti Peregukan Basis NU dan Ancaman Budaya Palsu di Era Digital

Acara Halal Bihalal DPD PDI Perjuangan Jawa Timur pada Minggu lalu tak sekadar seremoni. Dalam sambutannya, Ketua DPD Jatim Said Abdullah menyelipkan pesan-pesan penting. Ia bicara soal jati diri politik Jawa Timur yang khas, lalu beralih ke ancaman budaya palsu yang merajalela di era digital sekarang.

Said membuka pidatonya dengan lugas.

Begitu penegasannya, seperti tertulis dalam rilis yang diterima media.

Dia lantas menekankan satu hal yang sudah mengakar: relasi santri dan abangan di tanah Jawa Timur. Dua basis besar ini sering disebut Ijo-Abang merepresentasikan kekuatan Nahdlatul Ulama (NU) dan PDI Perjuangan. Kekuatannya nyata, hingga ke tingkat kampung paling bawah sekalipun.

Namun begitu, Said melihat ada pergeseran. Pembelahan sosial yang dianalisis Clifford Geertz di era 1950-an kini tampak semakin melebur. Realitanya, banyak pemilih yang secara identitas mengaku NU, tetapi dukungan politiknya mengalir ke PDI Perjuangan. Karena itulah, partainya tak akan pernah meninggalkan NU. Khususnya di Jatim.

Persoalan sehari-hari yang dihadapi kedua kelompok itu pun nyaris sama. Kemiskinan, akses pendidikan yang terbatas, sulitnya dapat pekerjaan layak semua itu masalah bersama. Menurut Said, perbedaan di antara mereka sangat tipis jika dibandingkan dengan kesamaan nasib yang harus dihadapi.

Lalu, bagaimana pembagian perannya? Di sini Said menjelaskan. NU punya peran besar dalam pemberdayaan sosial keumatan. Sementara PDI Perjuangan menjalankan fungsi politik, lewat kebijakan di tingkat daerah hingga pusat, untuk mendongkrak kesejahteraan.

Secara ideologis, keduanya juga sejalan. NU dan PDIP sama-sama mengusung Islam Wasathiyah atau Islam moderat. Nilainya jelas: keseimbangan, keadilan, toleransi. Serta penolakan tegas terhadap segala bentuk ekstremisme.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar