Perundingan Nuklir AS-Iran di Pakistan Gagal Lagi, Vance Soroti Penolakan Komitmen Jangka Panjang

- Minggu, 12 April 2026 | 10:20 WIB
Perundingan Nuklir AS-Iran di Pakistan Gagal Lagi, Vance Soroti Penolakan Komitmen Jangka Panjang

Perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat di Pakistan berakhir tanpa titik terang. Lagi-lagi, kedua negara gagal menemukan kesepakatan. Pihak AS, khususnya, menyoroti penolakan Iran untuk memberikan jaminan terkait program senjata nuklirnya.

Menurut laporan Al-Jazeera pada Minggu (12/4/2026), Wakil Presiden AS JD Vance yang mengonfirmasi kegagalan ini. Saat ditanya detail hal apa saja yang ditolak Teheran, Vance tak mau bertele-tele. Intinya, Iran enggan berkomitmen untuk tidak membangun senjata nuklir.

"Faktanya, kita butuh komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Mereka juga tidak akan berusaha mendapatkan alat yang memungkinkan mereka meraih kemampuan nuklir dengan cepat. Itu tujuan utama Presiden Amerika Serikat, dan itulah yang kami perjuangkan dalam negosiasi ini,"

Ucap Vance.

Dia melanjutkan dengan nada yang cukup gamblang. Iran, bagaimanapun, punya program nuklir yang berjalan. AS ingin lebih dari sekadar janji jangka pendek; mereka menuntut komitmen jangka panjang yang bisa dipegang.

"Program nuklir mereka, fasilitas pengayaan yang dulu ada, memang sudah tidak beroperasi. Tapi pertanyaan besarnya sederhana: apakah ada komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir? Bukan cuma sekarang, atau dua tahun lagi, tapi untuk selamanya? Kita belum melihatnya. Kami masih berharap."

Jadi, situasinya masih mentok. Negosiasi di Pakistan ini hanyalah babak terbaru dari perdebatan panjang yang sudah berlarut-larut. Kedua pihak tampaknya masih berdiri di posisi yang berseberangan jauh, dengan saling tuduh dan kecurigaan yang makin mengental. Masa depannya? Masih suram.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar