Kalau dilihat ritmenya, aktivitasnya justru makin kencang belakangan. Misalnya di Maret, mereka menjual 1.492 BTC. Lalu di April, ada lagi 319 BTC yang berpindah tangan.
Pertanyaannya, untuk apa semua ini? Tampaknya, Bhutan sedang mengamankan posisi. Setelah menikmati kenaikan harga sebelumnya, mereka kini memilih untuk mengunci keuntungan dan mengurangi eksposur terhadap gejolak dunia kripto yang terkenal tak menentu. Tujuannya jelas: menjaga stabilitas keuangan nasional.
Uang hasil penjualan itu konon akan diputar untuk membiayai pembangunan dalam negeri. Salah satu proyek ambisius yang disebut adalah Gelephu Mindfulness City.
Di sisi lain, aktivitas penambangan bitcoin di sana juga nyaris berhenti total. Padahal dulu, Bhutan dikenal memanfaatkan energi hidro yang melimpah untuk menambang. Sudah lebih setahun tak ada arus masuk signifikan dari aktivitas mining.
Meski cadangannya menyusut drastis, Bhutan sebenarnya masih termasuk dalam jajaran negara pemegang bitcoin terbesar. Hanya saja, posisinya semakin terpental ke bawah seiring terus berlangsungnya aksi jual ini.
Langkah Bhutan ini menarik untuk dicermati. Negeri yang dulu begitu optimis dengan bitcoin, kini berbalik haluan. Mereka mengambil profit, memitigasi risiko, dan fokus ke ekonomi riil. Ini bisa jadi sinyal bagi pasar kalau fase distribusi oleh pemain besar masih berlangsung meski dilakukan dengan sangat hati-hati agar harga tak anjlok.
Artikel Terkait
Pasokan Minyak Global Krisis, Harga Fisik Tembus Rekor Tertinggi
Dua Perempuan di Lebak Jadi Tersangka Usai Injak Al-Quran untuk Sumpah
Persija Gilas Persebaya 3-0, Eksel Runtukahu Cetak Brace
Harga Emas 24K Tembus Rp2,49 Juta per Gram, Buyback Lebih Tinggi dari Harga Jual