Pasokan Minyak Global Krisis, Harga Fisik Tembus Rekor Tertinggi

- Minggu, 12 April 2026 | 08:30 WIB
Pasokan Minyak Global Krisis, Harga Fisik Tembus Rekor Tertinggi

CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Pasar minyak global mulai terasa sesak. Bukan karena kelebihan, tapi justru sebaliknya: krisis pasokan mulai menghantam. Di tengah situasi geopolitik yang masih panas, pelaku industri kini berebut minyak mentah yang siap dikirim dalam waktu dekat. Persaingannya ketat.

Tekanan paling nyata, menurut Bloomberg, terlihat di kawasan Laut Utara. Kawasan itu kan jadi pusat perdagangan minyak fisik dunia. Nah, dalam sepekan terakhir saja, ada sekitar 40 penawaran pembelian kargo. Yang bikin was-was? Cuma empat yang dapat respons dari penjual. Situasi ini jelas menggambarkan betapa langkanya pasokan sekarang.

Di sisi lain, harga untuk pengiriman cepat malah melonjak tajam. Seperti dilaporkan Kompas.com Minggu pagi, beberapa kargo bahkan diperdagangkan di atas 140 dolar AS per barel. Level yang benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya. Lonjakan ini sejalan dengan kondisi pasar fisik global yang lagi kacau akibat gangguan distribusi energi di mana-mana.

Yang menarik, kondisi pasar fisik ini berbanding terbalik sama pasar berjangka. Harga minyak untuk kontrak Juni malah turun sekitar 13 persen dalam sepekan, berkutat di kisaran 95 dolar AS per barel. Penurunan ini didorong optimisme soal gencatan senjata antara AS dan Iran. Tapi ya, di lapangan, pasokan belum juga pulih. Antara harapan dan realita memang sering berselisih.

Lalu, apa pemicu utamanya? Reuters menyoroti gangguan distribusi dari Timur Tengah, terutama yang lewat Selat Hormuz. Jalur vital ini sebelumnya menyuplai sekitar 12 persen minyak dunia. Jadi, gangguan sedikit saja, dampaknya langsung terasa ke seluruh pasar global.

Meski aktivitas pengiriman mulai ada peningkatan, volumenya masih jauh dari kata normal. Dan ini yang perlu diingat: bahkan jika aliran sudah lancar kembali, dampaknya nggak akan langsung terasa. Butuh waktu berminggu-minggu untuk distribusi. CEO Abu Dhabi National Oil Company, Sultan al Jaber, punya istilah yang pas untuk kondisi ini: "kesenjangan 40 hari" dalam arus energi global.

Intinya, dunia sedang mengalami jeda pasokan yang serius akibat konflik yang menunda pengiriman.

Lonjakan harga ini memaksa kilang-kilang, terutama di Eropa dan Asia, untuk bersaing lebih ketat. Beberapa bahkan mulai mempertimbangkan untuk mengurangi produksi. Langkah ini mungkin bisa menyeimbangkan pasar minyak mentah, tapi ya ada risikonya. Bisa-bisa malah bikin produk turunan seperti solar atau bahan bakar jet jadi langka berikutnya.

Sementara itu, negara-negara Asia nggak tinggal diam. Mereka mulai beradaptasi dengan mencari sumber impor lain. Jepang, contohnya, meningkatkan pembelian dari Amerika Serikat. China memperbesar impor dari Kanada. India juga gerak cepat, mereka mempercepat pembelian dari Venezuela. Pada pekan pertama April saja, volume pengirimannya nyaris mencapai 6 juta barel angka yang dua kali lipat lebih tinggi dari bulan sebelumnya.

Yang jelas, situasinya cukup ekstrem. Reuters melaporkan lonjakan harga minyak fisik ini bahkan sudah menembus rekor, melampaui level krisis 2008 sekalipun. Ini sinyal kuat bahwa pasar sedang dalam tekanan yang luar biasa.

Kalau gangguan pasokan ini berlanjut, risikonya bakal merambat kemana-mana. Bukan cuma soal harga minyak, tapi juga inflasi global, biaya transportasi, dan pada akhirnya, stabilitas ekonomi dunia. Situasi yang perlu diawasi ketat oleh semua pihak.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar