“Arus masuk di Asia mencapai US$1,9 miliar. Ini menjadi kontributor positif yang mencerminkan kuatnya minat beli di Asia meskipun tonasenya lebih kecil dibandingkan aksi jual di wilayah lain,”
Demikian bunyi kutipan laporan WGC yang dirilis Sabtu (11/4/2026).
Pasar derivatif juga ikut merasakan dampaknya. Posisi beli bersih investor di COMEX menyusut cukup signifikan, sekitar US$2 miliar atau 19 ton. Tapi jangan salah, di balik aksi ambil untung dan pembalikan tren yang masif ini, laporan itu mencatat sesuatu. Sentimen investor jangka panjang ternyata masih menunjukkan bias beli yang kuat. Mereka belum benar-benar kapok.
Faktor lain yang turut bermain adalah penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi yang merangkak naik. Keduanya seperti mempercepat tekanan pada daya tarik emas sebagai safe haven.
Pada intinya, WGC memandang volatilitas di Maret lalu sebagai gambaran nyata betapa sensitifnya harga emas. Perubahan arus modal global, terutama yang dipicu oleh pergeseran ekspektasi kebijakan bank sentral, bisa dengan cepat mengubah permainan. Emas, yang sering dianggap sebagai pelabuhan aman, ternyata tak luput dari terpaan badai di pasar keuangan.
Catatan: Berita ini disajikan untuk informasi, bukan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual instrumen investasi. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab penuh pembaca. Media ini tidak bertanggung jawab atas segala kerugian atau keuntungan yang mungkin timbul.
Artikel Terkait
Bhutan Jual 9.000 Bitcoin Negara, Cairkan Rp10 Triliun untuk Pembangunan
Indonesia Catat 53,52 Miliar Jam Penggunaan Ponsel, Generasi Alpha di Bawah 13 Tahun Jadi Sorotan
KPK Tangkap Bupati Tulungagung Terima Rp335 Juta di Pendopo Kabupaten
Liverpool Kembali ke Jalur Kemenangan Usai Taklukkan Fulham 2-0