JAKARTA Maret 2026 menjadi bulan yang kelam bagi logam mulia. Harga emas anjlok hingga 12%, menyentuh level US$4.608 per troy ounce. Bukan cuma turun, ini adalah performa bulanan terburuk yang tercatat dalam lebih dari sepuluh tahun terakhir, tepatnya sejak Juni 2013 silam.
Laporan World Gold Council (WGC) yang baru dirilis, berjudul "Anatomi Penurunan Harga Emas", mengonfirmasi hal ini. Pelemahan terjadi terhadap semua mata uang utama dunia. Meski begitu, kalau dilihat dari kaca mata tahunan, posisi emas sebenarnya masih di zona hijau. Masih ada pertumbuhan positif year on year.
Lalu, apa penyebabnya? Menurut model GRAM milik WGC, runtuhnya harga digerakkan oleh beberapa hal sekaligus. Momentum negatif, arus dana yang kabur dari ETF emas global, dan aksi lepas posisi atau 'long unwind' di bursa berjangka COMEX, semuanya berkontribusi.
Pemicu utamanya jelas: dana yang menguap dari ETF emas global. Sepanjang Maret, arus keluar mencapai angka fantastis, US$12 miliar atau setara dengan 84 ton emas!
Wilayah Amerika Utara memimpin 'eksodus' ini dengan kontribusi US$14 miliar (minus 87 ton). Eropa menyusul di belakangnya, meski angkanya jauh lebih kecil, sekitar US$0,1 miliar atau setara 7 ton.
Namun begitu, ceritanya jadi menarik di sisi lain dunia. Sementara investor di Barat sibuk menjual, para pemain di Asia justru melihat peluang. Bagi mereka, koreksi harga ini adalah momentum beli yang ditunggu-tunggu.
Artikel Terkait
Bhutan Jual 9.000 Bitcoin Negara, Cairkan Rp10 Triliun untuk Pembangunan
Indonesia Catat 53,52 Miliar Jam Penggunaan Ponsel, Generasi Alpha di Bawah 13 Tahun Jadi Sorotan
KPK Tangkap Bupati Tulungagung Terima Rp335 Juta di Pendopo Kabupaten
Liverpool Kembali ke Jalur Kemenangan Usai Taklukkan Fulham 2-0