Agresi yang berlangsung lebih dari sebulan ini telah memakan korban ratusan nyawa. Hampir satu juta orang terpaksa mengungsi, meninggalkan rumah mereka karena serangan yang tak pandang bulu. Tapi, semua itu rupanya tidak membuat Hizbullah gentar. Kelompok itu mengindikasikan akan terus membela Iran dan perlawanan regional dalam perjuangan melawan AS dan Israel.
Di sisi lain, suara dari dalam parlemen Lebanon mencoba membaca ulang motif serangan ini.
kata Hassan Fadlallah, anggota blok Loyalitas kepada Perlawanan.
Menurutnya, Israel gagal mencapai tujuannya dan akhirnya terpaksa menerima keputusan AS untuk menghentikan perang. Tapi, kata Fadlallah lagi,
Konflik ini, yang sejak awal melibatkan Amerika Serikat dan Iran, kini memasuki babak baru yang lebih kelam. Beirut, kota yang sudah terlalu sering terluka, kembali menyaksikan pilu. Sementara ancaman serangan lebih lanjut masih menggantung di udara, bersama asap dan debu dari reruntuhan.
Artikel Terkait
Bank Dunia Revisi Turun Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Jadi 4,7 Persen
SIM Keliling Bandung Layani Perpanjangan di Dua Titik Hari Ini
Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.030 per Dolar AS di Awal Perdagangan
Gempa Magnitudo 3,8 Guncang Larantuka Dini Hari, Tidak Ada Laporan Kerusakan