Padahal, Selat Hormuz sebelumnya terbuka untuk semua. Penutupan terjadi, ya, gara-gara serangan AS dan Israel itu.
Trump sendiri sudah minta bantuan negara lain untuk membuka paksa selat tersebut. Tapi ditolak. Dia pun tak segan mengancam akan "menghancurkan Iran" jika mereka tetap bersikukuh.
Namun begitu, Iran tampaknya tidak gentar. Posisi mereka jelas: Selat Hormuz baru akan dibuka jika mereka mendapat ganti rugi atas segala kerusakan di dalam negeri. Perang yang dimulai AS dan Israel sejak 28 Februari 2026 itu, kata mereka, harus dipertanggungjawabkan.
Jadi, beginilah situasinya sekarang. Veto dari dua kekuatan besar itu bukan hanya sekadar suara di PBB. Itu adalah penanda bahwa krisis ini masih jauh dari kata selesai, dan dunia harus bersiap menghadapi konsekuensinya.
Artikel Terkait
Survei: Program Pemerintah Dinilai Tepat Sasaran, Kepuasan Mudik Lebaran 2026 Melonjak
Serangan Udara di Basra Tewaskan Tiga Warga Sipil
Polisi Amankan Pria dan Sita Obat Keras dari Toko Obat di Penjaringan
Tersangka Kasus Ijazah Jokowi Diklaim Minta Rp20 Miliar untuk Restorative Justice