Sebelum pengumuman itu keluar, Kementerian Listrik dan Air Kuwait sudah lebih dulu melaporkan kerusakan. Dua pembangkit listrik dan unit desalinasi air mereka mengalami kerusakan material yang signifikan akibat hantaman drone Iran. Akibatnya, dua unit pembangkit terpaksa ditutup.
Ini berbahaya. Ancaman dari Teheran ternyata juga menyasar instalasi desalinasi fasilitas yang jadi tulang punggung pasokan air bagi negara-negara gurun di kawasan Teluk. Gangguan di sini bisa berdampak luas.
Serangan juga merembet ke Bahrain. Di sana, sebuah serangan drone memicu kebakaran hebat di tangki penyimpanan milik perusahaan energi Bahrain, Bapco Energies. Kabar baiknya, api berhasil dipadamkan.
“Bapco Energies mengkonfirmasi insiden yang terjadi di salah satu fasilitas penyimpanannya hari ini yang mengakibatkan kebakaran tangki, sebagai akibat dari serangan drone Iran yang bermusuhan,”
kata perusahaan itu, tanpa merinci lokasi pastinya. Mereka menambahkan, “Api telah sepenuhnya dipadamkan, dan situasinya terkendali. Kerusakan saat ini sedang dinilai dan dievaluasi. Tidak ada laporan cedera.”
Serangan balasan Iran ini sepertinya bukan hal mendadak. Mereka telah berulang kali mengancam akan menyasar infrastruktur sipil negara-negara Teluk. Latar belakangnya? Serangan gabungan AS dan Israel sebelumnya juga telah menghantam target-target penting bagi ekonomi Republik Islam tersebut.
Memang, ketegangan sudah memuncak. Sehari sebelumnya, pada Sabtu, sebuah serangan di pusat petrokimia Iran barat daya sendiri menewaskan lima orang. Wakil gubernur provinsi Khuzestan yang mengonfirmasinya. Sebuah lingkaran kekerasan yang tampaknya belum akan berakhir.
Artikel Terkait
Serangan Udara Israel di Beirut Selatan Tewaskan 4 Orang, Luka 30
Arbeloa Anggap Beban Kekalahan Madrid ke Mallorca Sebagai Tanggung Jawab Pribadi
Muzani dan Haedar Nashir Bahas Geopolitik Global dalam Silaturahmi Halalbihalal
Jurnalis TVRI Luncurkan Antologi Puisi Kolaborasi 181 Penulis ASEAN