Subang, Jawa Barat – Kali Blanakan, sungai yang jadi nadi kehidupan nelayan Pantura Subang, kondisinya benar-benar mengenaskan. Bukan cuma sampah yang menumpuk, tapi pendangkalan parah bikin nelayan setempat kelimpungan setiap kali mau melaut.
Kalau dilihat langsung, pemandangannya miris. Berbagai macam sampah plastik, kayu, sisa-sisa rumah tangga mengapung dan tersangkut di badan sungai. Padahal, ini satu-satunya jalur utama mereka menuju laut lepas. Akses vital yang mestinya terjaga, malah berubah jadi tempat pembuangan.
Bagi para nelayan, ini bukan sekadar gangguan. Ini masalah harian yang bikin jengkel. Sering banget, sampah nyelip di baling-baling atau mesin kapal. Mau tak mau, perjalanan harus berhenti di tengah jalan. Mereka terpaksa turun ke air yang keruh itu buat membersihkan sendiri. Capek, dan yang pasti, bikin waktu melaut jadi molor.
Wardani, salah satu nelayan yang sudah puluhan tahun mengandalkan sungai ini, mengeluh.
“Sering banget sampah nyangkut di baling-baling, jadi kita harus berhenti di tengah buat bersihin. Sangat menghambat,” ucapnya dengan nada kesal.
Selain sampah, ada masalah lain yang tak kalah serius: pendangkalan. Sedimentasi lumpur membuat dasar sungai naik drastis. Kapal-kapal berukuran besar atau yang punya tonase tinggi, sekarang susah lewat. Airnya makin dangkal.
Masna, nelayan lain, mengiyakan. Menurutnya, kondisi sekarang jauh lebih parah dibanding beberapa tahun lalu.
“Sekarang makin dangkal, kapal besar susah lewat. Kadang harus nunggu air pasang dulu baru bisa jalan,” katanya.
Mereka merasa upaya normalisasi yang dilakukan selama ini belum maksimal. Pengerukan cuma dilakukan setahun sekali itu pun terkesan sekadarnya. Tidak sanggup mengejar laju pendangkalan yang terjadi hampir setiap hari.
Harapan mereka sebenarnya sederhana: pemerintah mau turun tangan secara serius. Pembersihan sampah dan pengerukan lumpur harus dilakukan secara rutin, bukan sekadar proyek musiman. Kalau tidak, bukan cuma aktivitas melaut yang terhambat. Roda ekonomi warga pesisir yang bergantung pada sungai ini, bisa ikut mandek.
Kondisi Kali Blanakan ini seperti alarm. Jika dibiarkan, bukan cuma nelayan yang rugi. Ekosistem sekitar dan masa depan wilayah pesisir pun terancam.
Artikel Terkait
Guterres Kecewa Konferensi Non-Proliferasi Nuklir PBB Gagal Capai Kesepakatan
Ini Arti Status Bansos di Aplikasi Cek Bansos, dari Penetapan hingga Gagal Top-Up
LAMR Apresiasi Polda Riau Tetapkan PT Musim Mas Tersangka Kasus Lingkungan, Kerugian Negara Capai Rp187 Miliar
Polisi Tangkap Teman Kencan yang Rampok dan Buang Wanita di Cisauk, Satu Pelaku Masih Buron