Ratusan ton sampah yang menggunung setiap hari di Makassar, Gowa, dan Maros akhirnya menemukan titik terang. Sampah-sampah itu tak lagi akan berakhir begitu saja di Tempat Pembuangan Akhir, melainkan diubah menjadi sumber energi. Lewat proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), tumpukan masalah ini berpeluang jadi solusi.
Momen kerjasama itu resmi dimulai Sabtu lalu di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel. Di hadapan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq dan Gubernur Andi Sudirman Sulaiman, tiga daerah sepakat berkolaborasi. Ini langkah konkret menangani darurat sampah yang kian mendesak.
“Bayangkan, timbunan sampah di tiga wilayah ini hampir 2.000 ton per hari. Penyelesaian tercepat ya dengan waste to energy,” ujar Hanif.
Ia mengingatkan, dasar hukumnya sudah ada, yakni Peraturan Presiden Nomor 109. Menurutnya, kondisi TPA yang ada juga sudah memprihatinkan, dengan usia pakai rata-rata cuma 17 tahun. Gagasan membangun PSEL ini sendiri disebutnya datang dari arahan Presiden Prabowo yang menekankan keadaan darurat tersebut.
Fasilitas yang direncanakan ini ditargetkan sanggup mengolah 1.000 ton sampah setiap harinya. Rinciannya, 800 ton dari Kota Makassar, lalu ditambah 150 ton dari Gowa, dan 50 ton dari Maros. Dari jumlah itu, diharapkan bisa dihasilkan listrik antara 20 hingga 25 MegaWatt. Tentu, angkanya masih bergantung pada jenis dan kualitas sampah yang masuk.
Namun begitu, tantangan nyata sudah menunggu di depan. Saat ini, kapasitas pengangkutan sampah Pemkot Makassar baru sekitar 67 persen. Artinya, harus ada peningkatan signifikan agar sampah bisa terkumpul maksimal dan proyek PSEL ini bisa berjalan optimal.
Artikel Terkait
Iran Mundur dari Piala Dunia 2026, Alasan Keamanan dan Ketegangan Politik Jadi Penyebab
Kemensos Pastikan Bansos Reguler Berlanjut Hingga April 2026
BRIN Konfirmasi Cahaya Misterius di Lampung Adalah Sampah Antariksa
Kardinal Suharyo Serukan Pertobatan Ekologis di Misa Paskah Katedral Jakarta