Langit malam di atas Lampung tiba-tiba terbelah oleh cahaya misterius. Benda bercahaya itu meluncur cepat, lalu tampak terpecah, memicu kehebohan di media sosial. Banyak yang bertanya-tanya, apa sebenarnya fenomena itu? Ternyata, jawabannya datang dari para ahli.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan benda langit tersebut bukanlah UFO atau pertanda apa-apa. Itu adalah sampah antariksa yang masuk ke atmosfer kita.
“Masyarakat sekitar Lampung dan Banten dihebohkan dengan objek terang yang meluncur di langit dan tampak terpecah menjadi beberapa bagian. Itu adalah pecahan sampah antariksa,”
kata Profesor Astronomi BRIN, Thomas Djamaluddin, seperti dikutip Antara, Minggu (5/4/2026).
Mengenal Sampah Antariksa
Jadi, apa itu sampah antariksa? Singkatnya, itu adalah semua benda buatan manusia di luar angkasa yang sudah tak punya guna lagi. Bisa berupa satelit tua yang mati, badan roket yang terlepas, atau bahkan serpihan-serpihan kecil hasil tabrakan di orbit.
Benda-benda ini tetap melesat mengelilingi Bumi dengan kecepatan luar biasa. Jumlahnya kian menumpuk seiring maraknya peluncuran satelit. Nah, ketika sebagian dari mereka jatuh dan menyentuh atmosfer, gesekan yang hebat membuatnya terbakar dan berpijar. Dari Bumi, kita melihatnya sebagai cahaya terang yang melintas.
Asal-Usul dan Risikonya
Lalu dari mana asalnya? Sumber utamanya ya dari aktivitas kita sendiri di luar angkasa. Sisa peluncuran, satelit yang sudah pensiun, dan pecahan-pecahan akibat insiden di orbit. Masalahnya, benda-benda ini sulit dikendalikan dan bergerak sangat cepat.
Menurut BRIN, setidaknya ada dua bahaya utama. Pertama, risiko tabrakan di orbit yang bisa merusak satelit aktif yang vital. Kedua, meski jarang, potensi jatuh ke permukaan Bumi.
“Pada saat mengorbit, ada potensi sampah antariksa bertabrakan dengan satelit aktif. Ini akan menimbulkan masalah,” jelas Thomas Djamaluddin.
“Bahaya yang lainnya yaitu ketika jatuh di permukaan Bumi, bisa dilihat dari segi ukuran bisa sampai berton-ton. Ini berpotensi membahayakan tetapi kejadiannya langka.”
Jejak Sampah Antariksa di Indonesia
Fenomena di Lampung bukan yang pertama. BRIN mencatat sejumlah kejadian serupa. Pada 1981, misalnya, sampah milik Rusia jatuh di Gorontalo. Lalu ada lagi di tahun 1988 (Lampung, Rusia), 2004 (Bengkulu, RRT), 2016 (Sumenep, AS), 2017 (Sumatera Barat, RRT), dan terakhir 2022 di Kalimantan Barat milik RRT.
Mengapa Indonesia kerap dilintasi? Posisi kita di khatulistiwa menjadi jalur orbit banyak satelit. Karena itu, pemantauan terus dilakukan. Satu hal penting: sampah antariksa yang jatuh tetap menjadi tanggung jawab negara pemiliknya. Kepemilikannya bisa dilacak lewat katalog orbit, dan jika menimbulkan kerugian, bisa menjadi urusan hukum internasional.
Jadi, cahaya misterius itu mungkin hanya pengingat. Bahwa langit di atas kita, ternyata mulai penuh dengan ‘sampah’ dari peradaban kita sendiri.
Artikel Terkait
Kebakaran Landa Auditorium Kampus Binus Cakra Jakarta Barat, 11 Mobil Damkar Dikerahkan
Menkeu Yakin IHSG Akan Menguat di Tengah Pelemahan Rupiah dan Ketegangan Global
Kejagung Tetapkan Pengusaha Tambang Sudianto Alias Aseng Tersangka Korupsi IUP di Kalbar
Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Universitas Janabadra Diluncurkan Tepat 28 Tahun Jatuhnya Orde Baru