"Mudah-mudahan cuaca mendukung, sehingga akhir minggu depan mudah-mudahan semua yang [huntara] in-situ, yang di tanah masing-masing ini bisa dibangun oleh BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana)," harapnya.
Selain soal tempat tinggal, bantuan lain juga terus mengalir. Mulai dari lauk-pauk, perabot rumah, sampai stimulan ekonomi. Tito juga menyoroti persoalan mendasar: air bersih. Untuk itu, BNPB dan Satgas PRR akan membangun sumur bor, menjawab aspirasi warga yang sangat membutuhkannya.
Ada lagi rencana jangka panjang. Banyak warga, terutama yang rumahnya di pinggir sungai yang rawan, menginginkan relokasi. Mereka ingin pindah ke lokasi yang lebih aman.
"Tadi saya sudah dengar langsung dari masyarakat, juga dari pak kepala desa, karena daerahnya daerah rawan di pinggir sungai, maka masyarakat menghendaki agar dibangunkan hunian tetap, dalam bentuk kompleks," ungkap Tito.
Rencana huntap terpusat itu akan segera diproses setelah lahan tersedia, dengan melibatkan kementerian terkait. Sambil menunggu, pemerintah menjamin kebutuhan hidup pengungsi lewat huntara dan bantuan sosial yang berkelanjutan.
Sebelum meninggalkan lokasi, Tito menyerahkan bantuan langsung. Isinya beragam, dari perlengkapan ibadah, sembako, peralatan dapur, hingga toren air berkapasitas 2.000 liter. Bantuan konkret di tengah proses pemulihan yang perlahan tapi pasti.
Artikel Terkait
Diskon Tiket Kapal Mudik 30% Tembus Target, 467 Ribu Penumpang Terdaftar
Ayah Tewas Dikeroyok Preman Saat Pesta Pernikahan Anak di Purwakarta
Panglima TNI Pimpin Upacara Pemakaman Mayor Zulmi, Prajurit Kopassus Gugur di Misi PBB Lebanon
Presiden Prabowo Lepas Jenazah Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Misi PBB di Lebanon