Sementara itu, dari pihak pemerintah daerah, Sekretaris Daerah Kabupaten Demak Ahmad Sugiharto punya sorotan lain. Ia mendesak agar koordinasi diperkuat untuk mengoptimalkan fungsi Bendung Gelapan di Grobogan. Pengendalian debit air harus benar-benar stabil.
“Dari hasil pengecekan, setiap 30 menit terjadi kenaikan debit air yang cukup signifikan. Ditambah lagi sedimen yang tinggi, sehingga diperlukan optimalisasi daya tampung,” jelas Ahmad Sugiharto.
Kondisi itu, lanjutnya, bikin air dari hulu melimpas dengan cepat ke hilir, termasuk Demak. Fenomena banjir kiriman pun tak terhindarkan, sekalipun di Demak sendiri cerah tak ada hujan.
Selain normalisasi, ia melihat pentingnya membangun infrastruktur pengendali air baru. Misalnya pintu air atau bendung tambahan di beberapa titik strategis. Harapannya, air dari hulu tidak langsung menjebur deras ke wilayah hilir.
“Dengan adanya tampungan air yang lebih banyak dan pengaturan aliran yang baik, diharapkan air tidak langsung turun ke hilir secara cepat,” pungkasnya.
Rapat koordinasi itu pun berakhir dengan sejumlah catatan penting. Semua sepakat, butuh aksi nyata dan terintegrasi, bukan sekadar wacana, untuk menyelamatkan Demak dari banjir yang terus berulang.
Artikel Terkait
Diskon Tiket Kapal Mudik 30% Tembus Target, 467 Ribu Penumpang Terdaftar
Ayah Tewas Dikeroyok Preman Saat Pesta Pernikahan Anak di Purwakarta
Panglima TNI Pimpin Upacara Pemakaman Mayor Zulmi, Prajurit Kopassus Gugur di Misi PBB Lebanon
Presiden Prabowo Lepas Jenazah Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Misi PBB di Lebanon