Kedua, Israel harus bertanggung jawab langsung atas korban prajurit TNI. Mereka harus mengakui serangan ini, meminta maaf secara resmi di forum PBB, dan menyatakan kesediaan untuk diadili oleh ICC.
Di sisi lain, keberadaan Israel kini jadi beban bagi dunia internasional. Saya menyerukan kepada berbagai negara untuk memutus hubungan diplomatik dan kerja sama di segala bidang dengan Israel. Isolasilah mereka. Beberapa negara Eropa sudah mulai. Saya apresiasi langkah Spanyol yang menarik duta besarnya, juga Prancis dan Denmark yang menolak penjualan senjata. Itu langkah tepat.
Lalu, pada 12 September 2025 lalu, Majelis Umum PBB sudah bersidang dan mendukung solusi dua negara. Palestina diakui sebagai negara berdaulat oleh 142 anggota. Keputusan ini tidak boleh mengendap. Sekjen dan Dewan Keamanan PBB harus segera eksekusi. Langkah ini penting untuk mengantisipasi doktrin Israel yang merasa sebagai 'bangsa terpilih' dan berhak memperluas wilayahnya.
Terakhir, kita lihat saja sejarah. Bangsa Yahudi dan Negara Israel dibangun dengan narasi kekerasan yang panjang. Bahkan nabi-nabi mereka sendiri, seperti Zakharia, Yahya, Yesaya, Yeremia, dan Amos, dibunuh karena menyuarakan kebenaran. Kalau mereka mengklaim sebagai bangsa pilihan, seharusnya mereka menyucikan diri dengan pertobatan, membawa keadilan, bukan terus-menerus menebar kekejaman. Rakyat Israel harus menuntut pemerintahnya berubah. Jika tidak, dikucilkan oleh dunia hanyalah konsekuensi logis. Sentimen global, terutama di media sosial, terhadap Israel sudah semakin meluas dan sulit dibendung.
Said Abdullah
Ketua DPP PDI Perjuangan
Artikel Terkait
Sopir Bus Restu Hilang Usai Kecelakaan Maut di Tol Jombang
Pemerintah Terapkan WFH Jumat untuk ASN Mulai 1 April 2026
AS Klaim Tanggung Jawab Serangan yang Runtuhkan Jembatan Vital Iran, Korban Jiwa Berjatuhan
Ibadah Jumat Agung dan Salat Jumat di Istiqlal-Katedral Berjalan Damai