Menurut sejumlah saksi, langkah ini mendapat dukungan dari para pakar. You Sovanriya, pakar dari Institute for International Studies and Public Policy Kamboja, menilai WFH bisa menjadi solusi yang efektif, khususnya di kota-kota besar.
Ia menjelaskan, mayoritas pekerja di Phnom Penh bergantung pada kendaraan bermotor untuk berangkat kerja. Data studi transportasi menyebut sekitar 35,2 persen menggunakan sepeda motor, sisanya naik remork atau minibus.
Logikanya sederhana. Rata-rata, seorang pekerja menghabiskan sekitar 11 liter bensin per bulan hanya untuk perjalanan ke kantor. Coba kalikan dengan 100.000 pekerja kantoran. Jika mereka WFH dua hari dalam seminggu, Phnom Penh bisa menghemat 200.000 hingga 300.000 liter bensin setiap bulannya. Angka yang tidak main-main.
Jadi, meski terpaksa diambil karena situasi darurat, kebijakan kerja dari rumah ini ternyata punya dampak ganda. Selain menghemat anggaran negara untuk subsidi, juga mengurangi kemacetan dan polusi. Sebuah langkah kecil yang, jika dijalankan dengan baik, bisa membawa perubahan yang signifikan.
Artikel Terkait
BGN: Insentif Harian Rp 6 Juta untuk SPPG Bisa Dihentikan Jika Fasilitas Tak Standar
Bareskrim Amankan Tiga Pengendali Jaringan Narkoba Klub White Rabbit
Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Serangan terhadap Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon
Harga Perak Batangan Antam Turun Rp1.500 per Gram pada Jumat