"Kami upayakan penyelesaian lewat mekanisme administratif dulu," katanya.
"Pembinaan dan edukasi didahulukan, sebelum berpikir untuk menempuh langkah hukum."
Instrumen digital andalannya bernama 'Jaga Dapur MBG'. Aplikasi ini jadi tulang punggung transparansi dalam rantai pasok dan distribusi yang dikelola Badan Gizi Nasional. Dengan sinergi Bidang Intelijen, aplikasi ini memantau segalanya secara langsung: kualitas bahan pangan, kesiapan penyelenggara, hingga validitas data penerima. Harapannya, setiap porsi yang sampai ke tangan masyarakat benar-benar memenuhi standar gizi tanpa kendala.
Dukungan ini mendapat apresiasi tinggi dari pihak Badan Gizi Nasional. Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya, selaku Wakil Kepala Badan, secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Reda Manthovani.
"Komitmen Bapak melalui nota kesepahaman strategis adalah pilar penting bagi kami," ujar Sony.
"Dukungan Bidang Intelijen Kejaksaan, termasuk pemanfaatan aplikasi 'Jaga Dapur MBG' untuk pemantauan real-time, memberikan rasa aman yang luar biasa bagi operasional kami di lapangan."
Dia juga mengakui tantangan di Tuban dan Bojonegoro. Namun, dengan pendampingan Kejaksaan dan mitra seperti ABPEDNAS, ia optimis tata kelola program bisa dijaga integritasnya.
Pada akhirnya, semua upaya digital dan sinergi lapangan ini bukan cuma soal efisiensi. Lebih dari itu, ini adalah investasi untuk mencetak generasi sehat dan cerdas. Sebuah fondasi yang diharapkan kokoh menopang visi Indonesia Emas 2045.
Artikel Terkait
Gempa Susulan M 5,5 dan M 3,7 Guncang Maluku Utara Usai Gempa Utama M 7,6
Gempa Magnitudo 7,6 Guncang Laut Bitung, BMKG Keluarkan Peringatan Tsunami
Pemprov DKI Siapkan Sanksi bagi ASN yang WFH di Kafe alih-alih di Rumah
Gempa 7,6 SR Guncang Bitung, BMKG Keluarkan Peringatan Tsunami