Kebijakan bekerja dari rumah alias WFH kembali digaungkan pemerintah. Kali ini, tujuannya jelas: menghemat energi. Langkah ini diambil menyusul lonjakan harga minyak global yang dipicu ketegangan di Timur Tengah. Indonesia ternyata tak sendirian. Beberapa negara lain sudah lebih dulu menerapkan skema serupa untuk menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Aturannya sendiri diumumkan dalam jumpa pers Selasa lalu. Untuk Aparatur Sipil Negara (ASN), WFH wajib dilakukan satu hari dalam sepekan, tepatnya setiap hari Jumat. Menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, pemilihan Jumat bukan tanpa alasan.
Sementara untuk sektor swasta, kebijakan ini masih bersifat imbauan. Pemerintah menyerahkan pelaksanaannya pada karakteristik dan kebutuhan masing-masing sektor usaha. Meski begitu, dampak penghematannya diproyeksikan luar biasa besar.
Airlangga menyebut potensi penghematan untuk APBN bisa mencapai Rp 6,2 triliun, terutama dari kompensasi BBM. Angka yang fantastis, bukan?
Nah, jika melihat ke luar negeri, sejumlah negara sudah bergerak lebih cepat. Pakistan, misalnya. Negeri itu langsung mengambil langkah drastis dengan meminta 50% pekerjanya WFH dan memperpanjang libur sekolah sejak awal Maret. Harganya minyak yang melambung di atas 100 dolar AS per barel membuat mereka kelimpungan. Apalagi, Pakistan baru saja menaikkan harga bensin dan solar dengan kenaikan terbesar dalam sejarah mereka. Wajar saja, mengingat hampir seluruh kebutuhan energinya bergantung pada impor.
Artikel Terkait
Serangan Rudal Iran Lukai 14 Warga dan Rusakkan Wilayah Tengah Israel
Prabowo Kagumi Profesionalisme Prajurit Korsel dalam Kunjungan Perdana
Longsor Tutup Rel, KA Ciremai Terhenti di Bandung Barat
Jokowi Sampaikan Simpati dan Dukungan untuk Iran dalam Pertemuan dengan Dubes di Solo