SMAN 11 Makassar Sukses Terapkan Larangan Ponsel Lewat Sosialisasi Bertahap

- Rabu, 01 April 2026 | 18:00 WIB
SMAN 11 Makassar Sukses Terapkan Larangan Ponsel Lewat Sosialisasi Bertahap

Aturan larangan ponsel di sekolah? Itu bukan cuma soal peraturan tertulis. Kunci keberhasilannya justru terletak pada bagaimana aturan itu disosialisasikan. Prosesnya harus matang, melibatkan semua pihak, terutama siswa dan orang tua mereka.

Nah, SMAN 11 Makassar tampaknya paham betul soal ini. Mereka tak langsung menerapkan aturan begitu saja.

Menurut Kepala Sekolah, Yuliana, langkah pertama justru adalah mengadakan pertemuan khusus dengan para siswa. Sosialisasinya dilakukan bertahap, dimulai dari kelas XII, lalu turun ke kelas XI, dan terakhir kelas X. Dalam pertemuan itu, dijelaskan alasan di balik kebijakan ini dan bagaimana mekanisme pelaksanaannya nanti.

“Jadi sebelumnya sudah ada pertemuan untuk memberitahu anak-anak terkait peraturan ini,” ujar Yuliana, Rabu (1/4/2026).

Tak berhenti di situ. Pihak sekolah juga mengajak orang tua untuk terlibat. Melalui pertemuan yang difasilitasi humas sekolah, para wali siswa diajak berdiskusi. Tujuannya jelas: memaparkan aturan dan, yang tak kalah penting, meminta dukungan penuh mereka.

“Setelah adanya edaran, kami sampaikan ke humas untuk mengadakan pertemuan dengan orang tua dan wali siswa,” lanjutnya.

Orang Tua Beri Dukungan Penuh

Dan respons orang tua? Sangat positif. Banyak yang mendukung penuh. Mereka melihat ini sebagai langkah tepat untuk mengontrol penggunaan ponsel anak-anak di sekolah, mengurangi gangguan saat belajar, dan sekaligus membangun kedisiplinan.

“Orang tua sangat respons, sangat mendukung, sangat setuju,” ungkap Yuliana.

Siswa Sempat Keberatan, Kini Mulai Terbiasa

Di sisi lain, reaksi awal siswa ternyata berbeda. Tak sedikit yang keberatan. Bagaimana tidak, gawai sudah seperti bagian dari diri mereka. Mencabutnya begitu saja tentu menimbulkan gejolak.

“Awalnya, anak-anak itu kayak merasa ada yang hilang, protes, menanyakan kenapa begini, kenapa begini,” kata Yuliana, menirukan gaya protes para siswa.

Namun begitu, setelah penjelasan berulang dan melalui masa adaptasi, perlahan mereka mulai menerima. Kini, kebiasaan baru itu terbentuk. Saat jam pertama dimulai, tanpa perlu disuruh-suruh, siswa dengan inisiatif sendiri mengumpulkan ponsel mereka.

“Sekarang, karena sudah terbiasa, begitu masuk jam pertama, anak-anak sudah inisiatif mengumpulkan,” ucapnya, terdengar bangga.

Bangun Disiplin dan Tanggung Jawab

Lebih dari sekadar mengurangi distraksi, kebijakan ini punya nilai lebih. Yuliana meyakini, ini adalah cara menanamkan kejujuran dan rasa tanggung jawab. Sekolah menekankan pentingnya mematuhi aturan yang telah disepakati bersama.

“Maka saya bilang kepada anak-anak, suatu ketika nanti kamu akan dapat manfaatnya,” sambungnya.

Tentu ada konsekuensinya. Jika ada yang melanggar, misalnya dengan menyembunyikan ponsel, sanksi akan diterapkan. Dan dalam hal ini, orang tua akan dilibatkan untuk menyelesaikan masalahnya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar