Di Thailand, kebijakannya lebih detail. Para pegawai negeri diimbau kerja dari rumah, kecuali yang harus melayani publik langsung. Mereka juga mengatur AC di kantor pada suhu 26-27 derajat, memakai kemeja lengan pendek, dan mematikan peralatan listrik yang tak terpakai. Bahkan, ada imbauan untuk naik tangga ketimbang lift. Perjalanan dinas ke luar negeri ditunda, dan masyarakat didorong untuk nebeng bareng atau carpooling.
Sementara itu, Vietnam merasakan dampak yang cukup berat. Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah, gangguan pasokan langsung terasa. Harga bensin meroket 32%, solar 56%, dan minyak tanah melonjak gila-gilaan sampai 80%. Akibatnya, antrean panjang di SPBU pun tak terhindarkan. Pemerintah pun mendesak pelaku usaha agar mengizinkan karyawannya WFH dan melarang spekulasi bahan bakar.
Langkah serupa diambil Sri Lanka. Mereka tak cuma mengimbau WFH, tapi juga memangkas jam kerja. Lembaga pemerintah hanya beroperasi empat hari seminggu, dengan Rabu ditetapkan sebagai "hari libur". Kebijakan penghematan ini juga berlaku untuk sekolah dan kampus.
Terakhir, ada Mesir. Negeri Piramida itu meminta toko, restoran, dan kafe tutup lebih awal, pukul 21.00 waktu setempat. Lampu jalan dan papan iklan di pinggir jalan juga dipadamkan. Sistem WFH satu hari seminggu akan diberlakukan pada April mendatang. Namun begitu, pekerja di sektor krusial seperti rumah sakit, sekolah, dan pabrik dikecualikan dari aturan ini.
Jadi, gerakan WFH untuk hemat energi ini memang sedang menjadi tren global. Responsnya beragam, dari yang sekadar imbauan sampai aturan ketat. Tujuannya satu: bertahan di tengah gejolak harga energi yang belum jelas ujungnya.
Artikel Terkait
Serangan Rudal Iran Lukai 14 Warga dan Rusakkan Wilayah Tengah Israel
Prabowo Kagumi Profesionalisme Prajurit Korsel dalam Kunjungan Perdana
Longsor Tutup Rel, KA Ciremai Terhenti di Bandung Barat
Jokowi Sampaikan Simpati dan Dukungan untuk Iran dalam Pertemuan dengan Dubes di Solo