Rabu pagi di Jakarta, rupiah menunjukkan sinyal hijau. Mata uang kita menguat 55 poin, tepatnya 0,32 persen, ke level Rp16.986 per dolar AS. Sehari sebelumnya, posisinya masih bertahan di Rp17.041.
Menurut Rully Nova, analis dari Bank Woori Saudara, penguatan ini tak lepas dari sentimen global yang membaik. "Rupiah hari ini diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.940-Rp17.040," ujarnya kepada ANTARA di Jakarta.
Alasannya? Ada optimisme pasar soal meredanya ketegangan antara AS-Israel dan Iran. Sentimen itu mendorong pelemahan indeks dolar, yang otomatis memberi ruang bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Di sisi lain, laporan The Wall Street Journal pada Senin (30/3/2026) mengutip sejumlah pejabat AS. Mereka menyebut Presiden Donald Trump telah memberi sinyal pada stafnya tentang kesiapan mengakhiri operasi militer terhadap Iran. Bahkan jika Selat Hormuz belum sepenuhnya terbuka.
Rupanya, dalam beberapa hari terakhir, Trump dan timnya sampai pada kesimpulan. Misi membuka Selat Hormuz secara penuh justru berisiko memperpanjang konflik di luar rencana awal, yang hanya empat hingga enam pekan. Akhirnya, diputuskan fokus utama adalah membatasi kemampuan angkatan laut dan rudal Iran, sambil mendesak Tehran agar arus perdagangan kembali lancar.
Artikel Terkait
Menteri Ketenagakerjaan Anjurkan WFH Satu Hari Seminggu, Sektor Vital Dikecualikan
Komisi III DPR Pertimbangkan Bentuk Pansus untuk Kasus Penyiraiman Andrie Yunus
AS Pertimbangkan Ulang Komitmen ke NATO Usai Perang Iran, Kata Menlu Rubio
Atap Rumah Warga Kediri Ambruk Diterpa Hujan, Tak Ada Korban Jiwa