Rupiah Menguat ke Rp16.986 Didorong Meredanya Ketegangan AS-Iran

- Rabu, 01 April 2026 | 10:45 WIB
Rupiah Menguat ke Rp16.986 Didorong Meredanya Ketegangan AS-Iran

Rabu pagi di Jakarta, rupiah menunjukkan sinyal hijau. Mata uang kita menguat 55 poin, tepatnya 0,32 persen, ke level Rp16.986 per dolar AS. Sehari sebelumnya, posisinya masih bertahan di Rp17.041.

Menurut Rully Nova, analis dari Bank Woori Saudara, penguatan ini tak lepas dari sentimen global yang membaik. "Rupiah hari ini diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.940-Rp17.040," ujarnya kepada ANTARA di Jakarta.

Alasannya? Ada optimisme pasar soal meredanya ketegangan antara AS-Israel dan Iran. Sentimen itu mendorong pelemahan indeks dolar, yang otomatis memberi ruang bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Di sisi lain, laporan The Wall Street Journal pada Senin (30/3/2026) mengutip sejumlah pejabat AS. Mereka menyebut Presiden Donald Trump telah memberi sinyal pada stafnya tentang kesiapan mengakhiri operasi militer terhadap Iran. Bahkan jika Selat Hormuz belum sepenuhnya terbuka.

Rupanya, dalam beberapa hari terakhir, Trump dan timnya sampai pada kesimpulan. Misi membuka Selat Hormuz secara penuh justru berisiko memperpanjang konflik di luar rencana awal, yang hanya empat hingga enam pekan. Akhirnya, diputuskan fokus utama adalah membatasi kemampuan angkatan laut dan rudal Iran, sambil mendesak Tehran agar arus perdagangan kembali lancar.

Nah, kembali ke dalam negeri. Pelaku pasar juga melihat langkah pemerintah dengan cukup positif. Mereka menilai kebijakan efisien yang akan dijalankan bisa memberi dampak baik.

Tapi begitu, tetap ada kewaspadaan. Harga minyak yang masih bertengger di sekitar 100 dolar AS per barel bikin hati-hati. Ini jadi semacam ganjalan di tengah sentimen positif tadi.

Untuk data ekonomi kita, inflasi Maret 2026 diperkirakan melandai jadi 3,65 persen, turun dari bulan Februari. Insentif tarif listrik dan harga pangan yang stabil pasca Lebaran jadi faktor pendorongnya.

Rully juga menambahkan soal neraca perdagangan. "Diperkirakan masih surplus sekitar 1,5 miliar dolar AS, lebih baik dari bulan sebelumnya," ungkapnya. Baik ekspor maupun impor sama-sama mengalami kenaikan, tapi surplusnya tetap terjaga.

Jadi, pagi ini rupiah bernafas lega. Kombinasi sentimen global yang membaik dan proyeksi data domestik yang tidak buruk memberinya ruang untuk menguat. Tentu, semua mata tetap tertuju pada gejolak harga komoditas dan dinamika politik global yang bisa berubah kapan saja.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar