Di sisi lain, meski kebijakan penghematan diperketat, pemerintah berusaha meyakinkan semua pihak. Mereka menjamin stabilitas pasokan energi dan rantai pasok akan tetap dijaga. Hal ini dianggap krusial untuk mengamankan laju pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang harus terus dipupuk.
Optimisme itu bukannya tanpa dasar. Setidaknya, ada angin segar dari hasil kunjungan ke Tokyo. Indonesia berhasil mengamankan komitmen investasi yang sangat signifikan, senilai USD 22,6 miliar. Kabar ini tentu jadi penyeimbang di tengah langkah-langkah penghematan yang diambil.
Pertanyaannya, apa sebenarnya yang membuat ekonomi Indonesia terlihat masih stabil? Sementara itu, beberapa negara tetangga di kawasan ASEAN sudah mulai terlihat kesulitan menghadapi gelombang ketidakpastian global. Mungkin kombinasi antara langkah antisipatif yang cepat dan momentum investasi yang baik menjadi kuncinya. Tapi, tentu saja, waktu yang akan membuktikan efektivitas semua langkah ini.
Artikel Terkait
Hakim Federal Hentikan Sementara Proyek Ballroom Mewah Trump di Gedung Putih
Bandara Ngurah Rai Layani 1,14 Juta Penumpang Saat Posko Lebaran 2026
Indonesia Desak DK PBB Gelar Sidang Darurat Usai Tiga Pasukan Perdamaiannya Gugur di Lebanon
Swedia Lolos ke Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Polandia 3-2 dalam Drama Play-off