Impack Pratama Catat Kinerja 2025 Lebih Baik dari Target, Waspadai Tantangan 2026

- Rabu, 01 April 2026 | 05:30 WIB
Impack Pratama Catat Kinerja 2025 Lebih Baik dari Target, Waspadai Tantangan 2026

PT Impack Pratama Industri (IMPC) menutup tahun 2025 dengan catatan yang cukup menggembirakan. Pendapatannya meroket ke angka Rp4,3 triliun, tumbuh 10,1% dari realisasi tahun sebelumnya yang sebesar Rp3,9 triliun. Bukan cuma itu, laba bersihnya juga ikut naik, mencapai Rp620 miliar atau naik 15% dari posisi 2024.

Yang menarik, capaian ini ternyata melampaui ekspektasi internal perusahaan sendiri. Sebelumnya, manajemen cuma menargetkan pendapatan Rp4,2 triliun dan laba bersih Rp600 miliar. Jadi, mereka berhasil mengungguli proyeksi yang sudah ditetapkan.

Namun begitu, di balik angka-angka positif itu, ada awan ketidakpastian yang menggelayut. Direktur Utama IMPC, Haryanto Tjiptodihardjo, mengaku khawatir dengan kondisi geopolitik global saat ini.

“Situasi ini memberi tekanan pada harga komoditas dan bikin pasar jadi makin tidak pasti. Karena itu, prospek usaha untuk tahun 2026 diprediksi akan lebih menantang,” ujarnya.

Pernyataan itu dia sampaikan dalam keterangan resmi perusahaan, Selasa (31/3/2026).

Menyikapi hal tersebut, Haryanto menyebut pihaknya tak akan tinggal diam. “Manajemen akan terus memperkuat efisiensi operasional. Langkah-langkah yang diambil juga harus cermat dan adaptif, supaya kita bisa menghadapi tantangan sekaligus menjaga kinerja perusahaan tetap solid,” tambahnya.

Meski prospek ke depan terlihat berat, Impack Pratama ternyata belum mau menurunkan target. Untuk tahun 2026, mereka masih membidik pendapatan sebesar Rp5,1 triliun dengan laba bersih di atas Rp700 miliar. Khusus untuk kuartal pertama tahun ini, perusahaan memperkirakan pendapatan akan berada di kisaran Rp1,1 hingga Rp1,2 triliun.

Kembali ke performa 2025, peningkatan juga terlihat dari sisi profitabilitas. Laba kotor perusahaan mencapai Rp1,7 triliun, naik dari Rp1,5 triliun di tahun 2024. Margin laba kotornya pun naik tipis, dari 39,4% menjadi 39,5%.

Di sisi lain, laba usaha mereka tercatat sebesar Rp848 miliar, tumbuh 6,8% dibanding periode sebelumnya. Margin laba bersihnya pun ikut membaik, dari 13,9% menjadi 14,5%.

Hal lain yang patut disorot adalah kondisi keuangannya. EBITDA perseroan menyentuh angka Rp1 triliun, naik 8,7%. Yang lebih menggembirakan, rasio utang terhadap EBITDA anjlok signifikan dari 1,4 kali menjadi hanya 0,6 kali. Ini jelas menunjukkan struktur keuangan yang semakin sehat dan kuat.

Memang, rasio EBITDA terhadap beban bunga sedikit melunak dari 14,5 kali menjadi 13,2 kali. Tapi angka itu tetap mencerminkan kemampuan perusahaan yang kuat dalam memenuhi kewajiban pembiayaannya. Secara keseluruhan, fondasi mereka terlihat kokoh untuk menghadapi tahun-tahun yang lebih bergejolak.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar