Lalu bagaimana perkembangan di lapangan? Menurut Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, operasi militer ini diprediksi berakhir dalam hitungan minggu, bukan bulan. Ia juga geram dengan rencana sebagian pejabat Iran yang mau memungut biaya permanen di Selat Hormuz. "Itu tak bisa diterima dan harusnya bikin dunia marah," tegasnya.
Nyatanya, persiapan tempur AS justru menguat. Dari sumber yang mengetahui situasi, Trump memerintahkan sekitar 2.000 tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 dikirim ke Timur Tengah. Belum lagi dua unit ekspedisi Marinir dengan total 5.000 personel yang diperkirakan tiba dalam beberapa hari ke depan.
Sementara kapal induk terbesar mereka, USS Gerald R. Ford, berlabuh di Kroasia untuk perawatan. Kapal raksasa dengan lebih dari 5.000 awak dan 75 pesawat tempur ini sebelumnya terlibat misi "Epic Fury" di Laut Merah.
Di tengah semua ini, ada secercah harapan diplomasi. Pakistan bersiap menjadi tuan rumah pertemuan penting pada Minggu, 29 Maret. Arab Saudi, Turkiye, dan Mesir akan hadir untuk membahas perang ini. Bahkan, Pakistan berharap bisa jadi tempat negosiasi langsung antara AS dan Iran. Mampukah dialog menghentikan bisingnya peluru?
Di pelabuhan Kandla, India barat, sebuah kapal tanker bernama "Jag Vasant" membawa 47.000 ton gas merapat dengan tenang pada Sabtu itu. Dunia mungkin sedang berperang, tapi kehidupan dan perdagangan harus terus berjalan. Entah sampai kapan.
Dilaporkan dari lokasi oleh Liu Jiajia.
Artikel Terkait
Pemerintah Alihkan Anggaran Hingga Rp130,2 Triliun untuk Prioritas Produktif
BRIN Klaim Teknologi Olah Sampah Siap Diterapkan dari Desa hingga Kota
Pemerintah Wajibkan ASN WFH Tiap Jumat dan Batasi Kendaraan Dinas 50 Persen
WFH Setiap Jumat Berlaku untuk ASN, Kecuali Sektor Krusial