BRIN Klaim Teknologi Olah Sampah Siap Diterapkan dari Desa hingga Kota

- Selasa, 31 Maret 2026 | 20:10 WIB
BRIN Klaim Teknologi Olah Sampah Siap Diterapkan dari Desa hingga Kota

Kondisi darurat sampah di Indonesia mendesak dicarikan solusi. Menjawab hal itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan sejumlah teknologi pengolahan yang mereka klaim siap untuk direplikasi dan diterapkan lebih luas. Mulai dari skala desa terpencil hingga kota metropolitan.

Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan kesiapan ini dalam Rapat Koordinasi Terbatas tentang Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), Selasa lalu. Rapat itu digelar di Kementerian Koordinator Bidang Pangan.

"Teknologi pengolahan sampah yang kami kembangkan mencakup berbagai skala, mulai dari level desa, komunitas, hingga kota besar," ujar Arif.

"Ini menjadi solusi yang siap diaplikasikan untuk mendukung penanganan sampah secara menyeluruh," tambahnya dalam keterangan tertulis.

Menurut Arif, untuk skala besar, BRIN punya teknologi PSEL yang sanggup mengolah ratusan ton sampah setiap harinya. Lalu, ada opsi skala menengah seperti teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) dan pirolisis yang mengubah plastik bekas jadi bahan bakar. Tak ketinggalan, biodigester untuk mengolah sampah organik menjadi biogas.

Nah, untuk skala yang lebih kecil dan sederhana, BRIN juga mendorong penggunaan komposter dan sistem pengolahan berbasis rumah tangga. Beberapa desa sudah mulai mencobanya.

Yang penting, sejumlah teknologi ini bukan lagi wacana. Sudah diuji coba dan diimplementasikan di beberapa daerah. Karena itu, kata Arif, langkah selanjutnya adalah mendorong replikasi dan menarik investasi agar pemanfaatannya bisa optimal.

"Teknologinya sudah tersedia dan terbukti dapat berjalan. Tantangan kita saat ini adalah bagaimana memperluas penerapan dan mempercepat implementasinya di daerah," imbuhnya.

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyoroti soal komitmen dan deadline. Pemerintah, sesuai arahan Presiden, sedang berupaya mempercepat penanganan sampah secara nasional. Targetnya, sebagian proyek sudah harus beroperasi pada 2027, dengan seluruh program prioritas tuntas di tahun 2028.

"Teknologi sudah ada, tinggal kemauan dan kedisiplinan kita bersama untuk menyelesaikan persoalan ini," tegas Zulkifli.

Ia menekankan, pemanfaatan teknologi seperti waste-to-energy dan RDF adalah kunci. Namun, penegakan hukum juga akan diperkuat untuk memastikan semua pihak patuh dalam pengelolaan sampah.

Rapat penting itu sendiri dihadiri sejumlah pejabat tinggi. Di antaranya Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurrofiq, Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro, dan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto. Tak ketinggalan, sejumlah pimpinan daerah dari berbagai kabupaten dan kota turut hadir membahas persoalan yang satu ini.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar