Kondisi darurat sampah di Indonesia mendesak dicarikan solusi. Menjawab hal itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan sejumlah teknologi pengolahan yang mereka klaim siap untuk direplikasi dan diterapkan lebih luas. Mulai dari skala desa terpencil hingga kota metropolitan.
Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan kesiapan ini dalam Rapat Koordinasi Terbatas tentang Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), Selasa lalu. Rapat itu digelar di Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
"Teknologi pengolahan sampah yang kami kembangkan mencakup berbagai skala, mulai dari level desa, komunitas, hingga kota besar," ujar Arif.
"Ini menjadi solusi yang siap diaplikasikan untuk mendukung penanganan sampah secara menyeluruh," tambahnya dalam keterangan tertulis.
Menurut Arif, untuk skala besar, BRIN punya teknologi PSEL yang sanggup mengolah ratusan ton sampah setiap harinya. Lalu, ada opsi skala menengah seperti teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) dan pirolisis yang mengubah plastik bekas jadi bahan bakar. Tak ketinggalan, biodigester untuk mengolah sampah organik menjadi biogas.
Nah, untuk skala yang lebih kecil dan sederhana, BRIN juga mendorong penggunaan komposter dan sistem pengolahan berbasis rumah tangga. Beberapa desa sudah mulai mencobanya.
Artikel Terkait
Bareskrim Geledah 3 Perusahaan Terkait Dugaan Pencucian Uang Rp 25,9 Triliun dari Tambang Ilegal
Mendagri Terbitkan Aturan WFH Wajib Setiap Jumat untuk ASN Daerah Mulai 2026
Satu Remaja Tewas, Satu Lagi Hilang Tenggelam di Curug Parigi Bogor
Satgas PRR: 5.000 Sekolah di Aceh, Sumut, dan Sumbar Rusak Akibat Banjir dan Longsor