Sidang Korupsi Proyek Satelit Kemenhan 2012-2021 Dimulai, Satu Terdakwa Buron

- Selasa, 31 Maret 2026 | 11:45 WIB
Sidang Korupsi Proyek Satelit Kemenhan 2012-2021 Dimulai, Satu Terdakwa Buron

Hari ini, Pengadilan Militer Jakarta kembali ramai. Dua nama, Laksamana Muda TNI (Purn) Leonardi dan warga negara AS Anthony Thomas Van Der Hayden, akhirnya menghadapi sidang dakwaan. Kasusnya tak main-main: dugaan korupsi proyek pengadaan satelit di orbit 123 derajat Bujur Timur untuk Kementerian Pertahanan, yang berlangsung hampir satu dekade dari 2012 hingga 2021.

Suara hakim ketua menggema di ruang sidang Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta, Timur, Selasa (31/3/2026) lalu.

Nama ketiga, Gabor Kuti Szilard CEO Navayo International AG memang disebut. Namun, kursi terdakwanya kosong. Sidang untuknya berjalan secara in absentia, karena pria itu masih berstatus buron atau DPO.

“Izin Majelis yang terhormat,” ujar oditur memulai penjelasannya. “Sebelum kami hadirkan para terdakwa, kami laporkan bahwasanya untuk terdakwa perkara yang satu lagi, terdakwa Gabor Kuti Szilard, sampai saat ini yang bersangkutan masih berstatus DPO. Sehingga yang akan kami hadirkan dua orang terdakwa.”

Proses hukum ini berjalan setelah Kejaksaan Agung melimpahkan berkas ketiga tersangka ke Oditur Militer, sekitar empat bulan sebelumnya. Direktur Penindakan Jampidmil, Brigjen Andi Suci, waktu itu memaparkan dengan rinci. Leonardi diduga bertindak sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Badan Sarana Pertahanan, sementara Van Der Hayden disebut berperan sebagai perantara.

Begitu kata Andi Suci dalam jumpa pers di Kejagung, Jakarta Selatan, Senin (1/12/2025). Barang buktinya beragam, mulai dari tumpukan dokumen proyek, 550 unit ponsel kiriman Navayo, hingga komponen server yang masih terbungkus rapi belum sempat dirakit.

Lalu, bagaimana cerita awalnya?

Jejak Kasus yang Berawal dari Sebuah Kontrak

Semuanya berpusat pada sebuah kontrak yang ditandatangani pada Juli 2016. Saat itu, Kemenhan melalui Leonardi sepakat dengan Gabor Kuti Szilard dari Navayo International AG. Nilainya fantastis, awalnya USD 34 juta lebih, lalu direvisi jadi USD 29,9 juta. Perjanjiannya untuk penyediaan terminal pengguna dan peralatan pendukung.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar