Menurut sejumlah petani setempat, sistem ini cukup menjanjikan. JIAT di Ketintang mengebor hingga kedalaman 120 meter, dilengkapi jaringan pipa dan rumah pompa. Secara teknis, ia bisa melayani sekitar 20 hektare lahan, dengan jaringan pipa sepanjang kira-kira 700 meter dan delapan unit box pembagi air.
Dengan adanya ini, ketergantungan pada musim hujan diharapkan bisa berkurang. Air bisa dimanfaatkan lebih stabil sepanjang tahun.
Namun begitu, Dody menegaskan satu hal. Keberadaan sumber air saja tidak cukup. "Yang penting kita siapkan airnya dari sekarang, kita kelola dengan baik, dan kita pastikan distribusinya efisien," ujarnya.
Ia pun meyakinkan, "Insya Allah ketahanan pangan kita aman."
Di sisi lain, percepatan saluran tersier bukan satu-satunya fokus. Kementerian PU juga mempertimbangkan dukungan infrastruktur pendukung lain. Misalnya, jalan usaha tani untuk memperlancar distribusi hasil panen.
Strategi besarnya jelas. Pembangunan JIAT akan terus diperluas ke berbagai wilayah. Ini adalah langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan sekaligus ikhtiar menjaga produksi pangan nasional. Intinya, menyediakan infrastruktur air yang andal dan bisa diandalkan untuk jangka panjang.
Artikel Terkait
Mario Aji Gagal Finis, Senna Agius Juarai Moto2 GP Amerika Serikat 2026
Tottenham Pecat Igor Tudor Setelah Hanya Enam Pekan Menukangi Klub
PM Spanyol Kecam Israel Cegah Patriark Masuk Gereja Makam Suci
Timnas Indonesia Gelar Latihan Penutup Jelang Final FIFA Series Kontra Bulgaria