Emas Tersendat, Perak dan Platinum Melaju Kencang di Tengah Isu Perdamaian

- Selasa, 16 Desember 2025 | 07:45 WIB
Emas Tersendat, Perak dan Platinum Melaju Kencang di Tengah Isu Perdamaian

Harga emas dunia akhirnya memangkas penguatannya pada perdagangan Senin. Padahal, di awal sesi, logam kuning itu sempat melonjak lebih dari 1 persen. Apa penyebabnya? Ternyata, ada angin segar dari meja perundingan antara Amerika Serikat dan Ukraina yang bertujuan mengakhiri perang. Kemajuan pembicaraan itu, rupanya, cukup signifikan untuk mengubah sentimen pasar.

Di sisi lain, para pelaku pasar juga tampak memilih untuk menahan diri. Mereka sedang menunggu data ketenagakerjaan utama dari AS yang akan segera dirilis. Kombinasi kedua faktor ini membuat emas spot hanya naik tipis 0,13 persen ke level USD 4.304,91 per troy ons.

Menurut analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, perkembangan positif dalam perundingan damai Rusia-Ukraina jelas berdampak.

"Kemajuan pembicaraan ini mengurangi daya tarik safe haven emas," ujarnya.

Wyckoff menambahkan, tekanan pada harga emas juga datang dari aksi ambil untung dan likuidasi yang sudah berlangsung sepanjang pekan. Banyak trader yang sebelumnya membeli kontrak berjangka kini mulai melepas posisinya.

Pernyataan dari utusan khusus AS, Steve Witkoff, sepertinya mengonfirmasi optimisme itu. Dia menyebut banyak kemajuan telah dicapai. Seorang pejabat AS lainnya bahkan menyebut kedua pihak semakin mendekati kesepakatan, dengan perbedaan pandangan yang kian menyempit.

Nah, fokus pasar kini beralih. Semua mata tertuju pada laporan non-farm payrolls (NFP) AS serta data penjualan ritel yang dijadwalkan terbit Selasa. Data-data ini akan jadi petunjuk berharga untuk memprediksi arah kebijakan Federal Reserve selanjutnya. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini mematok peluang penurunan suku bunga pada Januari 2026 sebesar 78 persen. Padahal, seperti kita tahu, emas selalu dianggap sebagai pelindung nilai di tengah gejolak.

Sementara emas tertekan, logam mulia lainnya justru bersinar. Perak spot malah melonjak 2,6 persen ke USD 63,61 per ons. Ini menarik, karena perak baru saja menyentuh rekor tertinggi USD 64,65 pada Jumat lalu. Kini, level psikologis USD 65 per ons tampaknya sudah dalam jangkauan.

Bob Haberkorn, analis senior RJO Futures, terlihat bullish terhadap perak.

"Perak memimpin penguatan di antara logam mulia. Menjelang akhir tahun, perak akan diperdagangkan di atas USD 65, dan saya bisa melihat level USD 70 pada awal kuartal pertama tahun depan," katanya dengan yakin.

Kenaikan tajam juga terjadi pada platinum dan palladium. Platinum spot naik 2,5 persen ke USD 1.788,55 per ons, level tertingginya sejak lebih dari satu dekade lalu, tepatnya September 2011. Palladium tak kalah perkasa, melonjak hampir 5 persen ke USD 1.560,25 per ons, menyentuh puncak tertinggi dalam dua bulan terakhir.

Soal palladium, produsen terbesarnya di dunia, Nornickel dari Rusia, memberikan tinjauan pasar. Mereka memperkirakan, dengan mempertimbangkan permintaan investasi, pasar palladium tahun ini akan mengalami defisit sekitar 0,2 juta ons. Sebuah kondisi yang tentu saja turut mendorong kenaikan harga.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler