"Pendekatan ini diharapkan mengubah urbanisasi dari beban menjadi kontribusi positif bagi ekonomi Jakarta," tambah Chico.
Memang, keputusan untuk melonggarkan yustisi ini bisa dibilang berani. Namun begitu, Chico menegaskan ini adalah pilihan strategis. Jakarta ingin tetap terbuka sebagai pusat ekonomi, tapi di saat yang sama juga harus bisa melindungi warganya.
Tentu saja, pelonggaran ini bukan tanpa kewaspadaan. Agar tak jadi bumerang, penguatan pendataan dan pengawasan administratif justru akan dilakukan lebih ketat. Intinya, mobilitas dipantau tanpa cara-cara yang kasar.
Langkah lain? Percepatan penciptaan lapangan kerja berkualitas. Dengan menarik investasi dan memperbanyak pelatihan, diharapkan pendatang baru bisa langsung berkontribusi lewat pajak, konsumsi, atau produktivitas mereka.
Semua kebijakan ini nantinya akan dipantau dampak sosial-ekonominya dengan saksama.
"Monitoring ketat dampak sosial-ekonomi, dengan prioritas perlindungan warga asli Jakarta dan pemenuhan hak dasar semua yang beraktivitas di sini," pungkas Chico.
Jadi, itulah strategi baru Jakarta. Bukan menghalau, tapi mengelola. Hasilnya? Kita lihat saja nanti.
Artikel Terkait
Perawat Lansia di Jepang Dapat Tanda Tangan Presiden Prabowo di Bandara Haneda
Biaya Operasional Pelayaran Global Membengkak Rp5,6 Triliun per Hari Akibat Ketegangan Selat Hormuz
Paus Leo XIV Tegaskan Tuhan Menolak Doa Para Pencetus Perang
Menteri PU Perintahkan Percepatan Saluran Tersier untuk Optimalkan Jaringan Irigasi Air Tanah di Boyolali