Momentumnya, kata dia, ada di Muktamar ke-35 NU pada Agustus-September 2026 mendatang. Yang didahului Konbes PBNU dan Munas Alim Ulama sekitar April-Mei.
"Ini saatnya bagi Ulama-Kyai Pesantren, Struktural dan Kader NU untuk menata dan membangkitkan jam’iyyah NU secara arif dan bijak. Bukan saatnya menunjukkan arogansi, tapi militansi khidmat demi masa depan umat," kata dia.
Dengan bangkitnya NU, harapannya organisasi ini tetap bisa menopang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di sisi lain, kedaulatan dan kemandirian NKRI sendiri harus dikembalikan. Caranya dengan menegaskan kembali landasan dasar bernegara, agar Indonesia bisa ikut menciptakan perdamaian dunia.
Pesan ini ia sampaikan bertepatan dengan suasana pasca Idul Fitri. Sebuah momen kemenangan yang penuh rahmat, tapi tak dirasakan semua muslim di dunia. Gus Salam mengajak semua untuk refleksi.
"Idul Fitri, saatnya kembali ke jati diri, moment refleksi, apa yang terjadi didalam diri dan sekitar kita," ujarnya.
"Membangun kesadaran baru tata kehidupan, dalam dimensi global, nasional, maupun lingkup kemasyarakatan, terutama konteks berjam’iyyah di NU," lanjutnya.
Dari tiga dimensi kehidupan itu, menurutnya, banyak pelajaran yang bisa diambil bagi mereka yang kritis. Pesan Qur'ani 'fa’tabiruu ya ulil albab' ia angkat sebagai seruan untuk mencari ikhtiar menuju peradaban yang mulia. Agar terhindar dari dorongan pada kerusakan.
Konteks global saat ini pun makin mempertegas urgensi pesannya. Dunia sedang tegang.
"Dampak dari perang ilegal yang dipicu zionis Israel-AS terhadap kedaulatan Iran," kata Gus Salam.
"Hal itu turut meningkatkan ketegangan hubungan antar negara, bangsa, kawasan, peradaban dan komunitas," pungkasnya menutup perbincangan.
Artikel Terkait
Mantan Danjen Kopassus Gugat Polda Metro Jaya Soal Penanganan Kasus Ijazah Jokowi
BAPERA Bantah Ketum Fahd El Fouz Terkait Dugaan Pengeroyokan
Rano Karno: Perputaran Ekonomi Jakarta Capai Rp48 Triliun di Akhir Tahun
Herdman Puas dengan Persiapan Timnas Indonesia Jelang Final FIFA Series 2026