Pantau – Di tengah ketegangan yang belum mereda, Amerika Serikat berencana menggelar pertemuan dengan Iran. Kabar ini datang dari Steve Witkoff, utusan khusus Presiden AS untuk Timur Tengah. Menurutnya, pertemuan itu bisa terjadi paling cepat pekan ini.
Witkoff menyampaikan hal itu di sebuah forum investasi di Miami, Jumat lalu. "Kami perkirakan pertemuan akan ada pekan ini," ujarnya. Ia pun mengaku berharap rencana itu benar-benar terwujud.
"Ada tanda-tanda positif, kapal-kapal sudah mulai melintas lagi," lanjut Witkoff. "Saya rasa presiden punya keinginan kuat untuk mencapai kesepakatan damai."
Ia menegaskan bahwa proses negosiasi akan terus berjalan. "Ini namanya negosiasi. Kami nggak akan berhenti di tengah jalan sebelum semuanya selesai. Proposal juga sudah kami ajukan," tegasnya.
Diplomasi Saat Situasi Memanas
Di sisi lain, Presiden Donald Trump disebut mendorong upaya perdamaian ini. Dalam kesempatan terpisah, Trump bahkan mengklaim Iran kini lebih terbuka untuk diajak bicara.
"Mereka hancur. Sekarang mereka mau bicara, dan kami juga mau. Mereka ingin buat kesepakatan," kata Trump.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberikan pernyataan terkait operasi militer. Ia memperkirakan kampanye militer terhadap Iran bisa diselesaikan relatif cepat.
Menurut Rubio, operasi itu mungkin hanya butuh waktu "beberapa pekan, bukan berbulan-bulan," dan bisa dilakukan tanpa perlu mengerahkan pasukan darat.
Eskalasi dan Dampaknya
Konflik ini tentu sudah meninggalkan jejak yang dalam. Sejak akhir Februari, serangan udara AS dan Israel ke Iran dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang.
Iran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan meluncurkan drone dan rudal, tidak hanya ke Israel tetapi juga menyasar Yordania, Irak, dan beberapa negara Teluk.
Akibatnya? Jelas. Korban jiwa berjatuhan, infrastruktur rusak parah. Pasar global dan jadwal penerbangan internasional pun ikut kacau balau.
Di pihak AS, sedikitnya 13 personel militernya tewas sejauh ini. Yang juga dirasakan dunia: harga energi melonjak dan lalu lintas kapal di Selat Hormuz jadi serba tidak menentu. Situasinya benar-benar memprihatinkan.
Artikel Terkait
Kejaksaan Agung Terima Permohonan Justice Collaborator Mantan Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya
Polisi Tangkap Dua Pelajar Pembacok Pelajar di Palmerah, Satu di Antaranya Masih di Bawah Umur
Kapolri Buka Peluang Polri Jalankan Kebijakan Strategis Nasional atas Perintah Presiden
Direktur PTPN: Talenta Muda Kunci Transformasi Perkebunan di Tengah Tekanan Global