Liburan Lebaran, Kota Lama Semarang Dibanjiri Wisatawan
Suasana libur Lebaran 2026 benar-benar terasa di Semarang. Kawasan Kota Lama, khususnya, jadi pusat keramaian. Gelombang pengunjung membanjiri setiap sudut kawasan bersejarah itu, membuktikan daya tariknya yang tak pernah pudar.
Data resmi dari Pemkot pun keluar. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, mengumumkan angka yang cukup mencengangkan. Dari H-7 sampai H 4 Lebaran, atau tepatnya 13 hingga 25 Maret 2026, tercatat ada 222.856 wisatawan yang datang ke Kota Lama.
“Kalau dibandingin periode yang sama tahun lalu, angkanya naik drastis, 24,72 persen,” ujar Agustina, Jumat (27/3).
Dia melanjutkan, “Ini bukti nyata transformasi Semarang. Kita sekarang bukan cuma kota transit, tapi sudah jadi destinasi wisata utama di Jawa Tengah.”
Gak cuma ramai dikunjungi, para pelancong ini juga betah menginap. Ini terbukti dari okupansi hotel yang nyaris penuh total. Pada hari kedua Lebaran, tingkat hunian kamar hotel di Semarang menembus angka fantastis: 95,53 persen.
Artinya apa? Wisatawan datang dengan niat tinggal, menikmati kota, dan tentu saja menghabiskan uangnya di sini. Mereka gak cuma numpang lewat.
Namun begitu, kesuksesan ini bawa konsekuensi sendiri. Agustina dengan jujur mengakui sejumlah masalah yang muncul. Kepadatan pengunjung dan masalah parkir di titik-titik tertentu di Kota Lama jadi PR besar. Cuaca panas juga jadi perhatian serius, menuntut kesiapan mitigasi dan fasilitas peneduh yang lebih baik.
“Ini yang akan kami evaluasi. Biar nanti distribusi wisatawan bisa lebih merata, gak numpuk di satu titik saja,” lanjutnya.
Pasca Lebaran, Pemkot Semarang tentu gak mau momentum ini hilang. Strategi jangka panjang sudah disiapkan. Fokusnya adalah menjaga kunjungan agar stabil, bukan cuma musiman. Caranya? Dengan menggelar event yang lebih beragam, meremajakan kawasan, dan meningkatkan pengalaman wisatawan lewat festival kuliner atau atraksi budaya.
Di sisi lain, Agustina menekankan bahwa semua ini mustahil tanpa kolaborasi. Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat harus kompak.
“Infrastruktur bagus itu penting, tapi yang bikin wisatawan betah dan mau balik lagi adalah keramahan warganya,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, dia menyampaikan terima kasih. “Untuk warga Semarang, terima kasih sudah jadi tuan rumah yang baik. Untuk pelaku usaha, mari tingkatkan terus pelayanan dan terapkan Sapta Pesona. Kita harus adaptif agar pariwisata Semarang tetap bersinar.”
Semarang, dengan Kota Lamanya, jelas sedang menikmati masa kejayaan sebagai magnet wisata. Tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga semua ini agar tetap berkelanjutan.
Artikel Terkait
Bamsoet Dukung Perburuan Babi Hutan demi Selamatkan Lahan Pertanian Petani
IKA Smada Makassar Nilai Tudang Sipulung Nasional II Dorong Pariwisata dan Ekonomi Daerah
Gempa M 5,3 Guncang Bengkulu Selatan, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
MPR Gelar Lomba Baris-Berbaris di Tarakan untuk Perkuat Nasionalisme Generasi Muda