Sementara itu, dari sisi pelaksana riset, Kepala BRIN Arif Satria memaparkan arah yang sedang ditempuh lembaganya. Fokusnya adalah mengembangkan riset strategis untuk menciptakan ternak unggul, khususnya sapi perah berproduktivitas tinggi.
Riset ini, lanjutnya, tidak dikerjakan sendiri-sendiri. BRIN menggandeng banyak pihak; mulai dari perguruan tinggi, pemerintah daerah, hingga pelaku usaha swasta. Kolaborasi semacam ini diharapkan bisa mempercepat capaian.
Ada tujuan yang lebih besar di balik semua upaya ini: mengurangi ketergantungan pada impor. Produk susu menjadi salah satu yang disorot. Caranya ya dengan meningkatkan produksi dan produktivitas susu lokal.
Tak cuma soal produktivitas, Arif menambahkan bahwa riset peternakan kedepan juga harus peka terhadap tantangan zaman. Perubahan iklim adalah realitas yang tak bisa diabaikan. Maka, sistem peternakan yang dibangun haruslah produktif sekaligus berkelanjutan atau dalam istilah kerennya, sustainable livestock.
Pertemuan strategis yang digelar BRIN itu sendiri dinilai sebagai langkah awal yang penting. Dengan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, diharapkan ada akselerasi dalam transformasi industri peternakan. Tentu, hasilnya baru akan terasa dalam jangka panjang.
Artikel Terkait
Prabowo dan Anwar Bahas Stabilitas Global dalam Pertemuan Bilateral di Jakarta
Menkeu Pindahkan 200-300 Pegawai Anggaran ke DJP untuk Penuhi Kekurangan SDM
Golkar Dukung Kebijakan Relaksasi Terukur Produksi Mineral ESDM
FIFA Perketat Aturan Penguluran Waktu Jelang Piala Dunia 2026