Yang menarik, transportasi laut mengalami lonjakan tertinggi dengan tambahan 360.840 penumpang. Angkanya naik dari 2,3 juta lebih di 2025 menjadi hampir 2,7 juta orang di 2026.
“Peningkatan di jalur laut ini penting banget. Ini tanda bahwa sirkulasi ekonomi merata antar-pulau. Uang mengalir deras ke wilayah-wilayah, tidak cuma berputar di pusat,” ungkap Ade Holis.
Sementara itu, moda transportasi lain juga ikut ramai. Angkutan bus membawa 1,58 juta penumpang, kereta api 1,83 juta, dan penerbangan mencatat 2,4 juta penumpang.
“Ini kuncinya: sinkronisasi antara likuiditas dan mobilitas. Masyarakat punya uang dan kemampuan untuk pulang, lalu membelanjakannya di kampung halaman. Ekosistem ekonomi lokal pun hidup kembali,” tuturnya.
Kombinasi antara dana segar dan arus mudik yang deras ini diproyeksikan memberi dampak besar. Dampaknya paling kuat diperkirakan terasa di kuartal pertama 2026.
Fenomena ini menunjukkan satu hal: pergerakan uang dan manusia secara bersamaan bisa memacu aktivitas ekonomi hingga ke tingkat daerah paling terpencil. Situasi ini tentu jadi indikator positif bagi pemulihan ekonomi nasional.
“Lebaran 2026 ini momentum emas. Dengan sirkulasi uang tunai tertinggi dalam enam tahun terakhir, kita sedang menyaksikan mesin ekonomi domestik bekerja pada kondisi puncaknya,” pungkas Ade Holis.
Artikel Terkait
Transjakarta SH2 Catat 19.000 Penumpang Saat Puncak Arus Mudik Lebaran 2026
John Herdman Awali Era Baru Timnas Indonesia dengan Target Jangka Panjang Piala Dunia 2030
Batas Pelaporan SPT Tahunan Diperpanjang hingga 30 April 2026
BMKG Prakirakan Hujan Guyur Sebagian Besar Wilayah Indonesia Hari Ini