Gubernur Bali Wayan Koster mendesak jajarannya untuk serius menggarap aplikasi PMI Krama Bali. Permintaannya jelas: layanan untuk pekerja migran asal Bali ini harus benar-benar optimal. "Jalankan aplikasi ini," tegas Koster di Denpasar, Kamis lalu. Menurutnya, sosialisasi dan pengelolaan sistem itu krusial agar semua calon pekerja yang hendak berangkat ke luar negeri bisa terdaftar dan terlayani dengan baik.
Pendataan yang rapi jadi poin utama arahan gubernur. Dengan punya data lengkap mulai dari identitas, asal daerah, hingga detail tempat kerja di luar negeri pemda bisa bergerak cepat jika ada masalah. "Kalau terjadi apa-apa, kita cepat tahu. Tidak kesulitan berkomunikasi dengan konsulat," ujarnya.
Ia mengakui, selama ini kerap ada kendala, baik saat pengiriman maupun ketika PMI sudah bekerja di negara tujuan. Tanpa data yang solid, penanganan jadi lambat.
Di sisi lain, situasi global yang tidak menambah urgensi ini. Disnaker ESDM Bali didorong untuk mengajak lebih banyak pekerja migran bergabung ke dalam sistem. Target Koster cukup ambisius: di pertengahan 2026, sistem PMI Krama Bali harus sudah optimal dan memuat data sebagian besar PMI Bali di luar negeri.
"Waktu COVID-19, jumlah PMI Bali yang kembali sekitar 22 ribu. Tapi yang masuk sistem cuma sedikit," ungkapnya. Artinya, banyak dari mereka yang 'hilang' dari pantauan pemerintah. "Kalau kenapa-kenapa, kita tidak punya sistem pelayanan cepat."
Artikel Terkait
Liburan Lebaran, Ribuan Pengunjung Serbu Destinasi Wisata di Bandar Lampung
Vinícius Júnior: Generasi Baru Brasil Sudah Siap Perjuangkan Piala Dunia 2026
Anggota DPR Usulkan WFH Diterapkan di Hari Rabu, Bukan Jumat
Anggota DPR Ingatkan Pemerintah Soal Risiko Long Weekend dari WFH Hari Jumat