Rencana pemerintah untuk menerapkan kerja dari rumah atau WFH sepertinya sudah di ujung tanduk. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi bahwa pembahasan kebijakan itu sudah rampung. Hanya tinggal menunggu pengumuman resmi saja.
Tapi, jangan tunggu pengumuman itu darinya. Purbaya dengan jelas menyatakan, yang berhak mengumumkan nanti adalah Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto.
“Sudah diputuskan, nanti diumumkan, bukan saya yang mengumumkan,” ucap Purbaya di kantornya di Jakarta Pusat, Rabu lalu.
Di balik keputusan ini, pemerintah punya pertimbangan matang. Mereka tak mau gegabah. Analisis dampak terus digodok, karena di satu sisi, WFH bisa menghemat BBM. Di sisi lain, ada kekhawatiran aktivitas ekonomi justru melemah. Padahal, penerimaan negara sangat bergantung pada geliat ekonomi itu sendiri.
Purbaya menjelaskan, perhitungan yang dilakukan bukan hitungan parsial yang sempit. Pendekatannya lebih holistik.
“Jadi hitungannya nggak satu titik begini aja, nggak partial equilibrium. Kalau ekonomi yang betul, dorong ke sini, sana gerak semua. Itu yang namanya general equilibrium approach. Enggak ada yang hilang dari ekonomi itu,” katanya.
Lalu, kenapa kemungkinan besar diterapkan di hari Jumat? Alasannya sederhana: hari itu jam kerja paling pendek. Dengan begitu, guncangan terhadap produktivitas diharapkan bisa ditekan seminimal mungkin.
"Di pabrik juga sama kan paling pendek itu, jadi dipilih yang paling sedikit shock-nya ke produktivitas,” tambahnya.
Artikel Terkait
Mulan Jameela Bantah Tudingan Hina Profesi Guru, Sebut Berita Bohong
Arab Saudi Apresiasi Resolusi Dewan HAM PBB yang Kutuk Serangan Iran
Serangan Udara AS-Israel Tewaskan Dua Remaja di Iran, Dampak Merambah ke Abu Dhabi
Pelatih Saint Kitts dan Nevis Anggap Peringkat FIFA Hanya Angka Jelang Hadapi Indonesia