Sabtu, 28 Maret 2026 nanti, lampu-lampu di berbagai penjuru dunia akan padam selama satu jam. Itu tandanya Earth Hour kembali digelar. Gerakan simbolis ini mengajak kita semua, mulai pukul 20.30 sampai 21.30 waktu setempat, untuk mematikan perangkat elektronik dan sekadar berhenti sejenak.
Nah, apa sih sebenarnya yang mau dicapai? Intinya, ini lebih dari sekadar penghematan listrik sesaat. Earth Hour ingin menyatukan orang-orang, mengingatkan kita semua tentang krisis iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati yang makin mengkhawatirkan. Enam puluh menit itu diharapkan bisa jadi momen refleksi, lalu diikuti aksi nyata untuk bumi.
Momen Istimewa Dua Dekade
Yang spesial di tahun 2026, gerakan yang diinisiasi WWF ini genap berusia 20 tahun. Dua dekade perjalanan sejak pertama kali dicanangkan.
Ceritanya berawal dari Sydney, Australia, pada 2007. Kala itu, aksi mematikan lampu hanyalah sebuah gerakan lokal. Tapi siapa sangka, dampaknya justru meluas secara global. Kini, jutaan orang dari berbagai negara turut serta. Gerakan ini telah berubah menjadi sebuah kekuatan massa yang tidak hanya menginspirasi tindakan individu, tetapi juga mendorong perubahan kebijakan di tingkat yang lebih tinggi.
Artikel Terkait
Chery dan iCAR Perkuat Pasar SUV Boxy Listrik di Indonesia
Menkeu Suntik Rp100 Triliun Tambahan ke Perbankan Jaga Likuiditas Jelang Lebaran
Pemkot Mataram Kaji Wajibkan Pejabat Bersepeda ke Kantor
Ledakan Kedua di Pangkalan Irak Tewaskan 7 Personel, Klinik Militer Turut Dihantam