Si Vis Pacem, Para Bellum: Refleksi Idul Fitri dan Kesiapan Pertahanan di Tengah Ketegangan Global

- Rabu, 25 Maret 2026 | 17:25 WIB
Si Vis Pacem, Para Bellum: Refleksi Idul Fitri dan Kesiapan Pertahanan di Tengah Ketegangan Global

Bagi Indonesia, prinsip ini punya akarnya sendiri: “cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan”. Damai adalah tujuan utama, tapi kita juga harus siap siaga menjaganya. Perang adalah opsi terakhir, hanya untuk mempertahankan kedaulatan dan nilai-nilai Pancasila.

Jadi, sikap ini pada dasarnya adalah soal menjaga martabat. Filosofi pertahanan kita adalah sintesis unik antara rasionalitas Barat dan kearifan Timur. Kekuatan dan daya tangkal dibangun bukan untuk mendominasi, tapi untuk menciptakan keseimbangan. Untuk mencegah konflik, sekaligus punya landasan etis yang kuat.

Pendekatan ini makin relevan dengan kerangka ASTACITA 2 yang menekankan kemandirian strategis. Di tengah ketidakpastian global, kemandirian bukan lagi sekadar wacana. Itu kebutuhan. Kesiapan menghadapi ancaman adalah bagian dari upaya menjaga kedaulatan, agar Indonesia tetap tegak di panggung geopolitik.

Pada akhirnya, Idul Fitri bukan cuma perayaan. Ia juga momentum untuk merenung. Damai yang sejati bukan berarti tidak ada konflik sama sekali. Damai adalah hasil dari kesadaran, kewaspadaan, dan kebijaksanaan yang terus dirawat. Dunia mungkin tak akan pernah benar-benar tenang, tapi peradaban yang matang adalah yang bisa merawat perdamaian tanpa lengah.

Dalam terang si vis pacem, para bellum, jadi jelas. Perdamaian sejati lahir dari kesiapan yang utuh secara moral, intelektual, dan institusional. Bukan untuk menebar permusuhan, tapi untuk memastikan kita tak kehilangan martabat saat ancaman datang.

Idul Fitri mengajarkan kemenangan atas diri sendiri. Dalam skala bangsa, kemenangan itu terletak pada kemampuan menjaga perdamaian. Dengan kekuatan yang terkendali, kebijaksanaan yang mendalam, dan kesadaran bahwa damai bukanlah kebetulan. Ia adalah hasil dari kesiapan yang dibangun dengan susah payah.

Khulfi M. Khalwani. Mahasiswa Program Doktor Konsentrasi Keamanan Nasional, Universitas Pertahanan RI.

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar