AS dan Israel Serang Infrastruktur Militer Iran, Sementara Proposal Gencatan Senjata AS Beredar

- Rabu, 25 Maret 2026 | 23:45 WIB
AS dan Israel Serang Infrastruktur Militer Iran, Sementara Proposal Gencatan Senjata AS Beredar

Lewat sebuah video singkat yang diunggah di platform X, Komando Pusat Militer AS secara terbuka mengakui telah melancarkan serangan. Sasaran mereka adalah infrastruktur militer Iran yang dinilai mengancam pasukan Amerika dan sekutunya di kawasan itu.

Cuplikan berdurasi 19 detik itu cukup jelas. Tampak sebuah lokasi di wilayah Iran menjadi sasaran, disusul ledakan keras dan bola api yang menjulang ke langit malam. Serangan ini, menurut pernyataan resmi mereka, baru saja terjadi.

Tak sendirian, militer Israel juga mengklaim telah bertindak. Melalui saluran Telegram, mereka menyebut angkatan udaranya menyerang sejumlah situs produksi senjata di sekitar Teheran pada malam yang sama.

Fasilitas yang dihantam itu, klaim mereka, digunakan Iran untuk memproduksi beragam senjata udara dan laut. Senjata-senjata itu dikatakan ditujukan untuk kelompok-kelompok seperti Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon.

"Secara paralel, kami juga menyerang pos-pos pertahanan. Itu termasuk lokasi peluncur rudal antipesawat dan sistem pertahanan udara mereka," bunyi pernyataan militer Israel tersebut.

Di tengah ketegangan, muncul kabar soal sebuah proposal dari Washington.

Media AS, New York Times, yang pertama kali mengungkapnya. Dua pejabat Washington yang mengetahui soal ini mengatakan, AS telah menyampaikan tawaran gencatan senjata berisi 15 poin kepada Iran. Menariknya, Pakistan disebut menjadi perantara dan bahkan menawarkan diri sebagai tuan rumah untuk negosiasi lebih lanjut.

Rincian 15 poin itu masih simpang siur. Namun, laporan televisi Israel Channel 12, yang mengutip tiga sumber berbeda, menyebut AS menginginkan gencatan senjata selama satu bulan penuh hanya untuk membahas proposal tersebut.

Dari apa yang beredar, rencana Amerika itu konon mencakup hal-hal besar. Mulai dari pembongkaran program nuklir Iran, penghentian dukungan untuk kelompok proxy di seluruh Timur Tengah, hingga pembukaan kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas yang lebih aman. Semuanya masih dalam ranah rumor, tapi cukup memberi gambaransituasi yang sebenarnya jauh lebih rumit dari sekadar serangan balasan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar