Di dalam negeri, Trump kesulitan membangun narasi kemenangan. Harga minyak melambung tinggi, angka elektabilitasnya merosot, dan koalisi pendukungnya mulai retak. Dia pun kerap marah dengan pemberitaan media. Sinyal yang dikirimkannya tentang tujuan perang atau kapan "ekskursi"-nya akan berakhir terlihat kacau dan tidak konsisten.
Panetta melihat ini sebagai sebuah blunder strategis yang mahal harganya.
"Kita mengganti pemimpin lama yang sebenarnya sudah sekarat, di saat rakyat Iran sendiri sudah muak dan siap turun ke jalan untuk mengubah pemerintahan mereka. Hasilnya? Malah dapat rezim yang lebih mapan. Pemimpin barunya lebih muda dan diprediksi akan berkuasa lama. Gaya politiknya juga jauh lebih keras ketimbang ayahnya. Situasinya justru memburuk," paparnya.
Balasan rezim baru Iran itu telak. Mereka berhasil memblokir Selat Hormuz secara efektif, yang langsung membuat pasar energi global gonjang-ganjing. Padahal, seperlima pasokan minyak dunia harus melalui selat sempit itu. Krisis energi yang sejak dulu diantisipasi oleh para ahli keamanan nasional AS, kini benar-benar terjadi.
Bagi sang mantan menteri, ini adalah krisis buatan Trump sendiri. Menurutnya, bukan hal yang rumit untuk dipahami. "Kalau Anda memutuskan berperang dengan Iran, salah satu titik rawan utamanya ya Selat Hormuz itu. Penutupan selat bisa memicu krisis minyak besar-besaran dan melambungkan harga bahan bakar," tandas Panetta.
Kini, pilihan yang tersisa bagi Trump, selain angan-angan, tampaknya semakin sedikit.
Artikel Terkait
Kapolri Resmi Terapkan One Way Nasional untuk Arus Balik Lebaran 2026
Polisi Tangkap Pelaku Pencurian Sound System dan Ayam Bangkok di Klapanunggal
Infrastruktur Gas Iran Diserang Usai Ultimatum Trump Diundur
Transjakarta Perpanjang Jam Operasional Rute Pengumpan Hingga Tengah Malam Akhir Maret 2026