Mantan Menhan AS Kritik Kebijakan Iran Trump Sebabkan Krisis Energi Global

- Selasa, 24 Maret 2026 | 12:35 WIB
Mantan Menhan AS Kritik Kebijakan Iran Trump Sebabkan Krisis Energi Global

Di dalam negeri, Trump kesulitan membangun narasi kemenangan. Harga minyak melambung tinggi, angka elektabilitasnya merosot, dan koalisi pendukungnya mulai retak. Dia pun kerap marah dengan pemberitaan media. Sinyal yang dikirimkannya tentang tujuan perang atau kapan "ekskursi"-nya akan berakhir terlihat kacau dan tidak konsisten.

Panetta melihat ini sebagai sebuah blunder strategis yang mahal harganya.

"Kita mengganti pemimpin lama yang sebenarnya sudah sekarat, di saat rakyat Iran sendiri sudah muak dan siap turun ke jalan untuk mengubah pemerintahan mereka. Hasilnya? Malah dapat rezim yang lebih mapan. Pemimpin barunya lebih muda dan diprediksi akan berkuasa lama. Gaya politiknya juga jauh lebih keras ketimbang ayahnya. Situasinya justru memburuk," paparnya.

Balasan rezim baru Iran itu telak. Mereka berhasil memblokir Selat Hormuz secara efektif, yang langsung membuat pasar energi global gonjang-ganjing. Padahal, seperlima pasokan minyak dunia harus melalui selat sempit itu. Krisis energi yang sejak dulu diantisipasi oleh para ahli keamanan nasional AS, kini benar-benar terjadi.

Bagi sang mantan menteri, ini adalah krisis buatan Trump sendiri. Menurutnya, bukan hal yang rumit untuk dipahami. "Kalau Anda memutuskan berperang dengan Iran, salah satu titik rawan utamanya ya Selat Hormuz itu. Penutupan selat bisa memicu krisis minyak besar-besaran dan melambungkan harga bahan bakar," tandas Panetta.

Kini, pilihan yang tersisa bagi Trump, selain angan-angan, tampaknya semakin sedikit.

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar