Kombinasi inilah tempo cepat, ketukan sela yang catchy, plus vokal yang padat yang rupanya sangat cocok dengan ekosistem TikTok. Platform itu bukan cuma soal wajah, tapi juga gerak.
Aris Setiawan, seorang etnomusikolog dari Institut Seni Indonesia Surakarta, punya pandangan yang menarik soal fenomena ini.
"Media sosial, terutama TikTok, tidak hanya menampilkan wajah, tapi juga konstruksi tubuh yang bergerak. Lagu-lagu yang energik dan cepat otomatis menemukan ruangnya," ujarnya pada 9 Februari 2026.
Jadi, bukan kebetulan belaka. Ada kecocokan yang alamiah antara karakter musik yang penuh energi itu dengan hasrat pengguna media sosial untuk mengekspresikan diri lewat gerak. Musik Indonesia Timur bukan sekadar tren sesaat; ia menemukan panggungnya di era di mana segala sesuatu bergerak serba cepat.
Artikel Terkait
Mantan Menag Yaqut Jalani Pemeriksaan Kesehatan Sebelum Kembali ke Rutan KPK
Arus Kendaraan ke Puncak Turun 25% di H+3 Lebaran
Arus Kendaraan ke Puncak Turun 25% di Hari Ketiga Lebaran
BMKG Ingatkan Warga Pesisir Waspada Potensi Rob 28-29 Maret 2026