Kim Jong Un akan tetap memimpin Korea Utara. Ia baru saja terpilih kembali sebagai Presiden Urusan Negara, sebuah posisi puncak di rezim Pyongyang. Keputusan ini diambil dalam Sidang Pertama Majelis Rakyat Tertinggi untuk masa jabatan ke-15, tepatnya pada 22 Maret lalu.
Menurut kantor berita resmi negara, KCNA, pemilihan ini mencerminkan kehendak bulat seluruh rakyat Korea. Laporan mereka menyebut, keputusan untuk menempatkan Kim kembali ke "jabatan tertinggi" adalah bentuk kesetiaan dan dukungan yang tak tergoyahkan.
Namun begitu, cerita di balik panggung politik Korea Utara selalu punya dua sisi. Para pengamat dan kritikus dari luar melihat hal yang berbeda. Bagi mereka, pemilihan semacam ini sudah bisa ditebak hasilnya. Prosesnya dianggap hanya formalitas belaka, sebuah sandiwara yang dirancang untuk memberi lapisan legitimasi demokratis pada kepemimpinan yang sejatinya absolut.
Seperti dilaporkan AFP, banyak yang memandang acara tersebut sebagai ritual yang telah ditentukan sebelumnya. Intinya, tidak ada kejutan.
Jadi, meski narasi resmi berbicara tentang kesatuan dan dukungan penuh, dunia internasional tetap menyoroti celah antara retorika dan realitas di negara tertutup itu. Kini, Kim Jong Un sekali lagi mengukuhkan posisinya, sementara mata dunia terus mengawasi.
Artikel Terkait
Trump Klaim AS Akan Ambil Sendiri Uranium Iran Jika Ada Kesepakatan
Gary Pallister: Carrick Layak Dipermanenkan Jika Bawa MU ke Liga Champions
Polisi Intensifkan Patroli di Permukiman Sepi Cengkareng Cegah Pencurian Saat Mudik
Arus Balik Lebaran 2026 Memuncak, 285 Ribu Kendaraan Diproyeksi Masuk Jabodetabek