Respons mulai bermunculan dari kalangan karyawan menyusul wacana pemerintah soal work from home atau WFH. Tujuannya, untuk menekan pemakaian BBM. Tapi, banyak yang bilang, penerapannya harus diatur dengan tepat. Termasuk soal hari-hari pelaksanaannya.
Angel, karyawan swasta berusia 27 tahun, termasuk yang setuju. Baginya, kebijakan ini bisa jadi langkah konkret untuk menghemat bahan bakar. "Kalau dari saya pribadi, cukup setuju ya," ujarnya.
Ia ditemui di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, awal pekan ini.
"Soalnya dengan WFH, kita bisa mengurangi perjalanan ke kantor yang biasanya pakai kendaraan pribadi. Itu pasti berdampak ke penghematan BBM juga kan," jelas Angel.
Namun begitu, ia punya catatan. Efektivitas aturan ini, menurutnya, sangat bergantung pada kesiapan perusahaan masing-masing. Sistem kerja jarak jauh tak bisa diterapkan begitu saja.
"Tergantung pelaksanaannya sih. Kalau perusahaannya sudah siap, menurut saya bisa efektif. Tapi kalau belum, justru bisa mengganggu produktivitas," tambahnya.
Di sisi lain, Angel merasa upaya penghematan energi ini tak boleh hanya dibebankan pada para karyawan. Ada usul lain yang ia lontarkan.
"Sebenarnya nggak bisa cuma dengan WFH ya. Efisiensi kaya gini sebenernya pemerintah bisa dari mengurangi acara besar," tuturnya.
Tak hanya itu, ia punya saran yang lebih gamblang. "Kalau perlu juga sekelas menteri itu naik transum juga."
Artikel Terkait
Wamendagri Dorong Revisi PP Majelis Rakyat Papua demi Perkuat Otsus dan Hak Orang Asli Papua
KAI Gandeng detikcom Latih 25 Pegawai Humas Tingkatkan Kompetensi Komunikasi Digital
Badut di Mojokerto Tersangka Pembunuhan Ibu Mertua, Cekcok Dipicu Penolakan Hubungan Intim
Prabowo Dorong BIMP-EAGA Lebih Adaptif Hadapi Tantangan Global di KTT Cebu