Suara Tengku Riandi (26) bergetar hebat di pagi Idul Fitri itu. Di bukit kecil Desa Agusen, Blangkejeren, ia bersama warga melafalkan doa ziarah. "Allahummaj'al qobrahum raudhotan min riyadil jinan wala taj'al qobrahum hufratan min hufarin niran."
Bukan sekadar rapalan. Doa itu adalah jeritan batin yang membumbung pelan, sementara kabut tipis masih menggantung di lereng perbukitan Gayo Lues, Aceh. Di hadapannya, tak ada nisan yang bisa disentuh. Tak ada nama yang bisa dibaca. Hanya hamparan tanah merah membisu, tempat ratusan jasad kini bersemayam tanpa penanda.
Semuanya berubah empat bulan lalu. Banjir bandang disertai longsor meluluhlantakkan desa itu. Air bah dari hulu sungai menyapu permukiman, tak terkecuali tiga kompleks pemakaman tua peninggalan masa kolonial. Sekitar 700 jenazah diperkirakan hanyut. Lenyap begitu saja.
Akibatnya, tradisi turun-temurun masyarakat Gayo untuk mengunjungi makam keluarga setiap Hari Raya sebagai cara menjaga silsilah dan ingatan sekarang terasa tanpa pijakan. Doa-doa dipanjatkan, tapi seolah melayang tanpa arah yang pasti. Lantunan Riandi pagi itu jadi satu-satunya pengikat batin yang tersisa.
Dari kejauhan, suara takbir bersahutan. Tapi di pusara tanpa nama ini, gema duka terasa lebih pekat daripada sukacita.
Dari sudut lain hamparan tanah itu, Seriah (55) duduk bersimpuh. Tubuhnya membungkuk, tangan menangkup wajah yang basah. Jilbab dengan renda halus yang dikenakannya tampak kontras dengan tanah merah yang mengering.
Bagi Seriah, kehilangan rumah masih bisa diatasi. Dengan tenaga dan waktu, bangunan bisa berdiri lagi. Tapi kehilangan jejak kubur orang tua dan adiknya? Itu luka yang tak bakal ada obatnya.
Artikel Terkait
KPK Ubah Status Tahanan Yaqut Cholil Qoumas, Mantan Penyidik Kritik Preseden Buruk
IEA Peringatkan Krisis Energi Global Lebih Parah dari 1970-an Akibat Konflik Timur Tengah
Polisi Tangkap WNI Irak Diduga Bunuh Cucu Mpok Nori di Rest Area Tol Tangerang-Merak
Karyawan Soroti Tantangan Penerapan WFH untuk Penghematan BBM