Yoga Ardian, atau yang akrab disapa Yow, sudah lama berkecimpung di dunia akrobat. Perjalanannya dimulai dari capoeira, lalu merambah ke tricking, bahkan sempat mendalami wushu. Kini, pria 41 tahun itu mendedikasikan diri sebagai pelatih akrobat untuk berbagai kalangan, mulai dari kegiatan sekolah hingga sekadar olahraga rekreasi.
Tapi, ruang latihannya tak melulu di studio yang nyaman. Ada sisi lain dari kehidupan Yow yang mungkin jarang terlihat: ia justru rutin melatih anak-anak usia 7-13 tahun di lorong gang tempat tinggalnya, di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. Komunitas kecil itu ia beri nama Indosalto.
Jujur saja, lokasinya jauh dari kata ideal. Mereka berlatih di jalan setapak yang sempit. Sesekali, latihan harus terhenti sejenak untuk memberi jalan pada motor atau gerobag warga yang lewat. Saat hujan turun? Ya, terpaksa berhenti total dan menunggu hingga cuaca cerah kembali.
Namun begitu, Yow tak pernah mengeluh. Justru, ia menikmati semua proses itu. Baginya, berlatih dengan fasilitas seadanya justru membentuk karakter dan mental anak-anak didiknya. Mereka belajar beradaptasi dan tak gampang menyerah.
“Sebenarnya karena kita buat (latihan) setiap hari, jadi kita pikir udah nggak, (bukan) sesuatu hal yang luar biasa ya. Jadi dari metode latihan juga mentalnya bisa terbentuk sih,”
ujar Yow.
Awalnya, niat Yow mendirikan Indosalto sederhana saja: agar anak-anak di sekitarnya punya kegiatan positif dan tidak menghabiskan waktu sia-sia. Kalau bisa menang kejuaraan dan bawa pulang medali, itu sudah jadi bonus yang luar biasa.
Seiring waktu, harapannya berkembang. Yow punya mimpi yang lebih besar. Ia ingin anak-anak itu punya masa depan yang lebih baik lewat keahlian akrobatik yang mereka asah setiap hari.
“Banyak yang bilang, ‘Kamu nggak mungkin jadi apa-apa. Kamu tuh anak gang!’ Kalau saya percaya sama diri saya sendiri. Terus saya pikir ini nggak melanggar aturan. Terus hidup sehat. Saya berharap mungkin ke depannya mereka bisa mandiri. Mereka bisa punya pekerjaan dari hasil ini, yang mereka latih selama ini,”
jelasnya dengan penuh keyakinan.
Dan perlahan, mimpi itu mulai terwujud. Ambil contoh Karlina, salah satu murid Yow. Gadis 13 tahun yang biasa dipanggil Acil ini baru saja menyabet dua medali perak di Kejuaraan Nasional Kickboxing 2025. Belum lagi prestasinya menjuarai battle tricking tingkat nasional tiga kali berturut-turut.
Kini, Acil tak cuma jadi atlet. Ia kerap diajak Yow menjadi asisten pelatih berbayar di beberapa kelas. Dari situ, ia mulai bisa membeli kebutuhan sekolahnya sendiri tanpa membebani orang tua.
“(Dulu aku) nggak mikirin apa-apa ke depannya. Aku latihan cuma kayak, ya udah ikut latihan aja. (Sekarang) aku bisa bayar kayak perangkapan sekolah sendiri, Kak. Mungkin dari beli tas, sepatu, seragam,”
tutur Acil dengan nada bangga.
Prestasi Acil tentu membanggakan, tapi bagi Yow, ini baru permulaan. Perjalanan Indosalto masih panjang. Ia berharap akan muncul lebih banyak lagi anak didik yang tak hanya juara, tapi juga mau meneruskan estafet ilmu ini.
“Saya sebenarnya bikin tongkat estafet ya buat teman-teman. Jadi ke depannya mungkin mereka juga bisa nerusin pelatihan-pelatihan ini. Selain mereka bisa hidup dari skill ini, ya mereka bisa berbagi lagi ke orang lebih banyak,”
tutup Yow. Ia membayangkan sebuah siklus yang terus berputar: dari gang sempit di Penjaringan, melangkah lebih jauh, lalu kembali untuk menginspirasi.
Artikel Terkait
Wakil Ketua MPR: Transformasi Pendidikan Nasional Harus Lahirkan Generasí Kompeten, Berkarakter, dan Berbudaya
16 Kantong Jenazah Korban Kecelakaan Maut Bus vs Truk BBM di Muratara Tiba di RS Bhayangkara, Identifikasi Terkendala Luka Bakar
Kapolres Lampung Timur Raih Penghargaan Kepemimpinan dari Asosiasi Polisi Wanita Internasional
Terdakwa Pemerasan Sertifikasi K3 Akui Terima Rp100 Juta dan Surat Kaleng Sejak 2021