Wakil Ketua MPR: Transformasi Pendidikan Nasional Harus Lahirkan Generasí Kompeten, Berkarakter, dan Berbudaya

- Kamis, 07 Mei 2026 | 12:50 WIB
Wakil Ketua MPR: Transformasi Pendidikan Nasional Harus Lahirkan Generasí Kompeten, Berkarakter, dan Berbudaya

Penguatan semangat kolektif dalam menata pendidikan nasional dinilai menjadi kunci untuk melahirkan generasi yang kompeten, berpikir kritis, berbudaya, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan. Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan bahwa transformasi pendidikan mutlak diperlukan agar sistem yang ada mampu menjawab tantangan perkembangan zaman yang kian kompleks.

“Saat ini, kita seperti berada pada persimpangan, ketika filosofi pendidikan nasional belum tuntas diterjemahkan dalam kurikulum pembelajaran, kita menghadapi berbagai tantangan zaman yang menuntut transformasi sejumlah sistem yang ada,” ujar Rerie, sapaan akrabnya, dalam keterangan resmi pada Kamis (7/5/2026).

Pernyataan itu disampaikan saat ia membuka diskusi daring bertajuk “Dilema Pendidikan Masa Depan dan Masa Lalu: Ke Mana Arah Pendidikan Indonesia?” yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12 pada Rabu (6/5). Menurut Rerie, sistem pendidikan nasional tidak boleh diterapkan semata-mata berdasarkan logika pasar. Lebih dari itu, sistem tersebut harus berjalan dalam kerangka yang lebih luas, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan konstitusi.

Anggota Komisi X DPR RI itu mendorong seluruh pihak terkait agar mampu menerapkan sistem pendidikan dalam kerangka yang tepat. Ia berpendapat, perubahan tuntutan zaman saat ini tidak hanya membutuhkan sistem yang mengedepankan aspek akademis dan kompetensi semata, tetapi juga sistem yang mampu melahirkan lulusan berkarakter serta memahami nilai-nilai budaya dan kebangsaan yang kuat.

Di sisi lain, Direktur Kelembagaan Ditjen Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek RI, Mukhamad Najib, mengungkapkan bahwa salah satu tujuan penerapan sistem pendidikan nasional saat ini adalah untuk mewujudkan visi Indonesia 2045, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersatu, berdaulat, maju, dan berkelanjutan. Ia mencatat bahwa pada 2025, jumlah perguruan tinggi di Indonesia mencapai 4.416 institusi, yang setiap tahunnya menghasilkan sekitar 1,7 juta lulusan.

“Dilihat dari jumlah perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, upaya mewujudkan visi Indonesia 2045 cukup serius,” ujar Najib.

Namun, ia mengakui bahwa sebagian besar perguruan tinggi yang ada saat ini belum memiliki kualitas yang memadai. Sebagian besar masih berstatus sebagai teaching university dan belum sepenuhnya bertransformasi menjadi research university. “Butuh upaya yang masif untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi nasional agar mampu mengantisipasi tantangan zaman,” tegasnya.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Melani Budianta, menyatakan kekhawatirannya terhadap reduksi pendidikan yang hanya berorientasi pada pasar dan industri. Menurutnya, pendidikan saat ini harus mampu melahirkan anak bangsa yang siap menjawab tantangan yang semakin kompleks. Ia mencontohkan sejumlah transformasi multidimensi yang tengah terjadi, seperti perubahan lingkungan hidup, migrasi urban, transformasi digital, hingga krisis kohesi sosial.

“Masyarakat kita saat ini rentan terhadap berbagai dampak transformasi multidimensi itu,” ujar Melani.

Ia menambahkan bahwa sistem pendidikan saat ini kehilangan roh dalam membangun ingatan kolektif dan warisan budaya kepada peserta didik, padahal hal tersebut sangat penting dalam pembentukan karakter mereka.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar