“Sebenernya saya mau tidur di atas cuma disuruh keluar sama RW sama RT pengurus,” tuturnya.
“Habis makin lama makin tinggi. Jadi itu hampir kena pompa. Mau nggak mau kan diungsiin, takut listrik apa-apa kan, kita nggak tahu masih nyala apa kagak.”
Akhirnya, sekitar pukul 11 malam, Feri memboyong keluarganya mengungsi ke rumah orang tuanya di Jagakarsa. Pagi harinya, saat fajar menyingsing di hari kedua Lebaran, mereka kembali. Kondisi rumah masih terendam. Baru sekitar pukul delapan pagi, mereka mulai membereskan semua kekacauan itu.
“Jam setengah lima subuh cuma belum surut. Jam delapan lewat lah mulai bersih-bersih,” katanya.
Feri memutuskan untuk segera bekerja. Menurutnya, kalau tidak dimulai, pekerjaan itu tak akan pernah selesai.
“Kalau nggak dikerjain ya nggak kelar-kelar lah. Mau dibilang apa, orang kita juga tinggal ini doang kok. Kalau yang di bawah kan emang susah, masih air nggak jalan, jadi kan percuma dikurasin. Kalau saya kan udah hampir jalanan doang,” ucapnya sambil terus bekerja.
Di sisi lain, ia mengakui bagian tersulit adalah membersihkan endapan lumpur dan pasir yang membandel. “Beresin pasirnya, nyerok-nyerokin lumpur, pasir itu paling capek,” pungkasnya.
Banjir di momen Idul Fitri jelas sebuah kejutan yang tak diinginkan. Tapi Feri memilih berlapang dada. Alih-alih bersedih, ia mencoba melihat sisi terang. Baginya, masih bisa melaksanakan salat Id bersama keluarga adalah nikmat terbesar di hari kemenangan itu.
“Beda nggak beda ya sama saja menurut saya, nikmatin saja hidup. Yang penting kemarin sudah sempat salat Id bareng keluarga,” tuturnya dengan senyum sederhana.
Artikel Terkait
Prabowo: Reformasi Polri Tak Selalui Bergantung pada Komite, Tapi Komitmen Mutlak
Sahroni: KPK Harus Perketat Pengawasan Tahanan Rumah Yaqut
Pangkasan AS di Baghdad Kembali Diserang dengan Roket dan Drone
Stasiun KRL Jabodetabek Ramai di Hari Kedua Lebaran, Penumpang Padati Peron